Dengan hati bahagia Raja Santanu menyambut putra-
nya dan membawanya ke istana. Anak yang dikelilingi
aura keagungan dan menunjukkan watak-watak kesatria
sejati itu dinobatkannya menjadi putra mahkota. Dewa-
brata diangkat sebagai yuwaraja atau putra mahkota yang
bertugas mendampingi Raja dalam memerintah. Dia pula
yang akan mewarisi kerajaan ayahnya, kelak setelah ayah-
nya mengundurkan diri dengan bijaksana.
Empat tahun berlalu. Pada suatu hari, Raja Santanu
berjalan-jalan di tepi Sungai Yamuna. Tiba-tiba angin
berhembus dan terciumlah olehnya keharuman yang
memenuhi udara. Raja mencari sumber keharuman yang
suci itu dan melihat seorang gadis cantik jelita, secantik
bidadari kahyangan, duduk melamun di tepi sungai.
Sejak Dewi Gangga meninggalkannya, Raja Santanu
selalu berusaha menahan hasrat dan hawa nafsunya dan
berusaha hidup dengan sepenuhnya mengutamakan
kebajikan. Tetapi, kecantikan wajah dan keharuman tubuh
gadis itu membuatnya lupa akan tapabrata-nya. Hatinya
bergejolak, dilanda cinta asmara yang meluap-luap. Raja
Santanu meminang gadis itu agar mau menjadi permaisu-
rinya.
“Wahai gadis jelita, siapakah namamu dan dari mana
asalmu? Aku terpesona oleh kecantikanmu. Maukah eng-
kau kupersunting menjadi istriku?” kata sang Raja.
Berkatalah sang juwita, “Daulat Tuanku, nama hamba
D
Satyawati. Hamba seorang penangkap ikan. Ayah hamba
kepala kampung nelayan di sini. Hamba persilakan Paduka
membicarakan permintaan itu dengan ayah hamba. Semo-
ga dia menyetujuinya.”
Satyawati mengantarkan sang Raja ke rumah orangtua-
nya di kampung nelayan yang agak jauh dari tempatnya
mencari ikan. Sampai di rumah, sang Raja dipersilakan
untuk mengutarakan niatnya.
Kata Raja Santanu, “Wahai Bapak nelayan, aku
temukan putrimu yang jelita ini di tepi sungai sedang
mencari ikan. Aku sangat terpesona oleh kecantikan dan
tutur katanya yang lembut. Aku ingin mempersunting dia
menjadi istriku dan memboyongnya ke istanaku.”
Ayah gadis itu orang yang cerdik. Ia menyembah Raja
Santanu dan berkata, “Daulat Tuanku. Memang sudah
waktunya anak hamba menikah dengan seorang lelaki,
seperti gadis-gadis lain. Paduka Tuanku adalah raja yang
mulia dan berkedudukan jauh di atas dia. Hamba tidak
keberatan jika anak hamba Paduka persunting. Tetapi,
sebelum Satyawati hamba serahkan, Paduka harus
berjanji.”
Kata Raja Santanu, “Apa pun syarat yang kauajukan,
aku akan memenuhinya.”
Kepala kampung nelayan itu memohon, “Jika anak
hamba melahirkan seorang bayi lelaki, Paduka harus
menobatkannya menjadi putra mahkota dan kelak setelah
Paduka mengundurkan diri, Paduka harus mewariskan
kerajaan ini kepadanya.”
Meskipun tergila-gila pada anak gadis kepala kampung
nelayan itu, namun Raja Santanu tak dapat menyanggupi
persyaratan itu. Ia sadar, jika dia memenuhi semua syarat
yang diajukan ayah si gadis, berarti ia harus menyingkir-
kan Dewabrata yang sudah dinobatkannya menjadi yuwa-
raja dan berhak atas takhta kerajaannya kelak. Terlalu
besar yang harus ia pertaruhkan untuk mempersunting
Satyawati. Sungguh tidak pantas dan memalukan, jika ia
menuruti kata hatinya. Setelah bergulat dengan perasa-
annya, Raja Santanu kembali ke istananya di Hastinapura.
Perasaannya campur aduk, sedih karena mungkin harus
menyingkirkan Dewabrata, senang karena sedang jatuh
cinta. Tetapi, sang Raja menyimpan rahasianya rapat-
rapat. Tak seorang pun diberi tahu akan hal itu. Raja lebih
banyak mengurung diri di ruang peraduannya dan
melamun. Tugas-tugas kerajaan lebih banyak dilakukan
oleh Dewabrata.
Mengetahui hal itu, suatu hari Dewabrata bertanya
kepada ayahnya, “Ayahanda mempunyai segala sesuatu
yang mungkin diinginkan oleh seorang manusia. Tetapi
mengapa Ayahanda kelihatan begitu murung? Apa sebab-
nya Ayahanda berduka demikian rupa? Wajah Paduka
seakan-akan menyimpan rahasia dan menanggung beban
berat.”
Jawab Baginda, “Anakku sayang, apa yang kaukatakan
itu benar. Sesungguhnya Ayahanda sedang tersiksa oleh
perasaan duka dan cemas. Engkau putraku satu-satunya.
Engkau selalu sibuk mengurus kerajaan dan melatih para
prajurit agar mahir berperang. Hidup di dunia ini tidak
pasti dan tidak kekal. Perang dan damai silih berganti
tiada henti. Jika kau mati tanpa punya anak, maka garis
keturunan kita akan putus, habis.
“Sudah tentu seorang anak —apalagi anak tunggal—
sama berharganya dengan seratus anak. Para tua-tua
cendekia yang mahir akan makna kitab-kitab suci berkata,
‘Di mayapada atau di dunia ini, punya anak hanya seorang
sama dengan tidak punya anak sama sekali’. Sungguh
sayang jika kelangsungan hidup keluarga dan keturunan
kita hanya bergantung pada seorang saja. Sebenarnya,
Ayahanda memikirkan kelangsungan garis keluarga dan
keturunan kita sampai beratus-ratus tahun kelak. Itulah
yang membuatku gelisah dan berduka.”
Raja Santanu berusaha keras untuk menyembunyikan
isi hatinya yang sesungguhnya karena ia malu pada putra-
nya. Dewabrata yang bijaksana dan setia kepada ayahnya
menyadari hal itu. Ia tidak mau mendesak agar ayahnya
mengungkapkan hal-hal yang dirahasiakannya dan menye-
babkannya berlaku seperti itu, selalu murung dan gelisah.
Dewabrata kemudian bertanya kepada sais kereta
ayahnya. Barulah ia tahu bahwa belum lama ini ayahnya
berkenalan dengan seorang gadis cantik penangkap ikan di
tepi Sungai Yamuna, bahwa ayahnya kemudian meminang
gadis itu, dan bahwa ayahnya tak sanggup memenuhi
syarat-syarat yang diajukan ayah si gadis.
Mendengar itu, Dewabrata memutuskan untuk mene-
mui kepala kampung nelayan itu dan meminang putrinya
atas nama ayahnya.
Kepala kampung nelayan itu berpegang teguh pada
pendiriannya, “Wahai sang Putra Mahkota, sesungguhnya
anak hamba pantas menjadi permaisuri ayahanda Paduka.
Karena itu, sungguh wajar jika kelak anaknya dinobatkan
menjadi raja, menggantikan ayahanda Paduka. Apakah
Tuanku sependapat dengan hamba?
“Hamba tahu, Paduka telah dinobatkan menjadi yuwa-
raja dan dengan sendirinya kelak akan menggantikan
beliau. Demi anak hamba, jangan sampai hal itu terjadi.”
Kata Dewabrata, “Baiklah. Ingat baik-baik kata-kataku
ini: Jika anakmu melahirkan seorang anak lelaki, anak itu
kelak akan dinobatkan menjadi raja. Aku rela turun takhta
demi keinginan ayahanda Raja Santanu untuk melanjut-
kan keturunannya.”
Mendengar kata-kata Dewabrata, nelayan itu bersujud,
“Wahai Putra Mahkota yang paling bijaksana di antara
semua keturunan Bharata, apa yang Tuan lakukan
sungguh berani dan belum pernah dilakukan orang
sebelumnya. Tuanku seorang pahlawan besar. Silakan
Tuanku membawa anak hamba untuk dipersembahkan
kepada ayahanda Paduka.
“Hamba yakin, Tuanku pasti akan memenuhi janji.
Tetapi, apa yang dapat hamba pakai sebagai pegangan
yang menguatkan harapan hamba? Bagaimana putra-
putra yang lahir sebagai keturunan Tuanku akan rela
menyerahkan hak-hak mereka sebagai ahli waris kerajaan?
Putra-putra Tuanku pasti akan menjadi pahlawan-
pahlawan besar seperti Tuanku sendiri. Tuanku pasti sulit
menjelaskannya kepada mereka. Pasti sulit menghalangi
keinginan mereka untuk kembali memiliki kerajaan —
entah dengan kekerasan atau secara baik-baik. Inilah
keraguan hati hamba yang selalu membuat hamba cemas.”
Mendengar pertanyaan yang sangat sulit dijawab itu,
Dewabrata dengan penuh niat suci memutuskan untuk
melepaskan diri dari segala sesuatu yang bersifat duniawi,
demi ayahnya.
Kemudian ia bersumpah di hadapan ayah si gadis
penangkap ikan, “Aku berjanji tidak akan kawin. Dengan
demikian, aku takkan pernah punya anak. Seluruh hidup-
ku akan kupersembahkan untuk berbakti pada rakyat dan
kerajaan dan untuk kesucian.”
Ketika Dewabrata mengucapkan sumpah sucinya,
berguguranlah kembang-kembang harum suci menaburi
kepalanya, sementara di angkasa bergema suara merdu,
“Bhisma... bhisma... bhisma....”
Kata bhisma menyatakan bahwa seseorang telah meng-
ucapkan sumpah yang berat dan suci dan berjanji akan
benar-benar melaksanakannya. Dewabrata memenuhi
syarat-syarat itu.
Sejak itu, Dewabrata melepas gelar yuwaraja dan tidak
lagi berkedudukan sebagai putra mahkota. Kemudian dia
digelari dengan nama Bhisma, sebagai penghormatan akan
kesetiaannya kepada ayahnya dan keteguhan hatinya yang
suci.
Demikianlah, Dewabrata putra Dewi Gangga membo-
yong Satyawati ke Hastinapura untuk diserahkan kepada
ayahnya, Baginda Raja Santanu.
Dari perkawinannya dengan Satyawati, Raja Santanu
mempunyai dua putra, Chitranggada dan Wichitrawirya.
Chitranggada meninggal lebih dulu daripada adiknya,
tanpa meninggalkan seorang putra pun; sedangkan Wichi-
trawirya mempunyai dua putra, yaitu Dritarastra dan
Pandu dari dua permaisurinya, Ambika dan Ambalika.
Dritarastra berputra seratus orang; mereka dikenal
sebagai Kaurawa. Pandu berputra lima orang, mereka
termasyhur sebagai Pandawa. Adapun Bhisma, sebagai
kakek-paman dan sesepuh anak-cucu Raja Santanu,
hidup sampai usia tua, disegani dan dihormati oleh
seluruh sanak keluarganya. Kelak Bhisma meninggal
sebagai senapati dalam perang besar Bharatayuda di
padang Kurukshetra.
Friday, December 5, 2014
Mahabaratha BAB 2 Dewabrata, putra raja Santanu dan Dewi Gangga
Wahai Dewiku, maukah engkau menjadi istriku? Aku
tidak peduli siapa pun engkau. Aku terpesona oleh
kecantikanmu dan jatuh cinta padamu. Siapakah engkau
dan dari manakah asalmu?” kata Raja Santanu kepada
seorang gadis jelita yang berdiri di hadapannya.
Sesungguhnya gadis itu adalah Dewi Gangga, bidadari
kahyangan yang turun ke bumi dalam wujud manusia.
Parasnya yang cantik, lekuk tubuhnya yang indah, dan
tindak-tanduknya yang halus membuat Raja Santanu
terpikat dan bangkit gairah asmaranya.
Sang Raja berjanji akan mempersembahkan seluruh
cinta, kekayaan, dan kerajaannya —bahkan seluruh
hidupnya— kepada gadis jelita itu.
Tanpa curiga atas pertanyaan Raja Santanu, gadis itu
menjawab, “Wahai Raja perkasa, hamba bersedia menjadi
istri Paduka asalkan Paduka berjanji memenuhi syarat-
syarat hamba.”
“Apakah itu?” tanya Raja Santanu tak sabar.
“Pertama, jika hamba sudah menjadi istri Paduka, tak
seorang pun, tidak juga Paduka, boleh bertanya siapa
sesungguhnya hamba dan dari mana asal-usul hamba.
Kedua, apa pun yang hamba lakukan —baik atau buruk,
benar atau salah, wajar atau ganjil— Paduka tidak boleh
menghalang-halangi. Ketiga, Tuanku tidak boleh marah
kepada hamba — dengan alasan apa pun. Keempat, Padu-
ka tidak boleh mengatakan sesuatu yang membuat pera-
“W
saan hamba tidak enak.
“Begitu Tuanku melanggar syarat-syarat itu —walau
hanya satu— hamba akan meninggalkan Tuanku saat itu
juga. Apakah Tuanku setuju dan bersedia berjanji untuk
tidak melanggarnya?”
Tanpa berpikir panjang, Raja Santanu yang sedang
dimabuk asmara langsung bersumpah akan memenuhi
semua syarat yang dikatakan si gadis jelita.
Demikianlah, tanpa mengenal siapa namanya dan tanpa
mengetahui dari mana asal-usulnya, Raja Santanu mem-
persunting gadis jelita yang ditemukannya di tepi Sungai
Gangga. Dibawanya gadis itu ke istana dan dinobatkannya
menjadi permaisurinya.
Hari demi hari berlalu. Raja Santanu semakin mencintai
permaisurinya yang jelita, lebih-lebih karena selain cantik,
permaisurinya itu sangat berbakti kepadanya dan halus
tutur katanya. Kebahagiaan Sang Raja semakin lengkap
ketika tahu permaisurinya mengandung.
Sembilan bulan mereka lewatkan dengan penuh
bahagia. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan tibalah
saatnya Dewi Gangga melahirkan. Sang Dewi pamit kepada
suaminya, mengatakan bahwa dia akan pergi menyendiri
dan melahirkan di tepi Sungai Gangga. Dia tak mau
ditemani siapa pun, tidak juga sang Raja.
Maka pergilah Dewi Gangga seorang diri. Sampai di tepi
sungai, dia mencari tempat yang teduh dan terlindung
untuk melahirkan. Bayi yang dilahirkannya langsung
dibuangnya ke sungai. Setelah membersihkan diri, sang
Dewi kembali ke istana dengan wajah berseri-seri, seolah-
olah tak terjadi apa-apa.
Raja Santanu menyambutnya dengan penuh harap.
Hatinya bahagia akan menyambut sang bayi, buah kasih-
nya dengan permaisuri yang dicintainya. Tetapi, betapa
kecewanya Raja melihat Dewi Gangga datang tanpa sang
bayi. Perasaan Baginda campur aduk. Heran, melihat istri-
nya kembali tanpa sang bayi. Cemas, memikirkan nasib
sang bayi. Murka, karena permaisurinya tampak tenang
dan tidak merasa bersalah. Raja merasa berdosa, karena
tak kuasa berbuat apa pun kecuali diam seribu bahasa.
Tak berani bertanya. Tak berani melanggar sumpah yang
telah diucapkannya.
Raja Santanu, yang terlanjur mencintai dan terpesona
oleh kecantikan permaisurinya, tak berani bertanya
sepatah kata pun. Disambutnya sang Dewi dengan mesra,
seakan-akan tak terjadi apa-apa. Mereka melanjutkan
kehidupan seperti biasa.
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Dewi
Gangga kembali hamil dan ketika tiba saatnya melahirkan,
sekali lagi dia mohon diri hendak menyepi di tepi Sungai
Gangga. Syarat yang diajukannya tetap sama: tak seorang
pun boleh mengikutinya.
Hal yang sama terulang. Sang Dewi kembali ke istana
tanpa menggendong bayi. Sang Raja, dengan perasaan ter-
tekan, menyambut istrinya seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Demikianlah, kejadian itu berulang sampai tujuh kali.
Tetapi, pada kehamilan yang kedelapan, Raja Santanu tak
kuasa menahan diri lagi. Sudah lama ia bertanya-tanya
dalam hati, siapa dan dari mana asal perempuan kejam
yang menjadi istrinya itu. Di mana semua anak yang telah
dilahirkannya? Sungguh kejam ibu yang menelantarkan
bayi-bayinya.
Diam-diam Raja membuntuti istrinya ke tepi Sungai
Gangga. Alangkah terkejutnya Baginda melihat sang Dewi
mengangkat bayi yang baru dilahirkannya dan siap mence-
burkannya ke dalam sungai. Tanpa berpikir panjang dan
lupa akan sumpahnya, Baginda berteriak lantang, “Henti-
kan! Ini pembunuhan kejam! Rupanya kau tega membu-
nuh bayi-bayimu yang tidak berdosa!” Sambil berteriak
demikian, Raja mencengkeram tangan Dewi Gangga, mena-
hannya agar tidak melaksanakan perbuatan terkutuk itu.
“Wahai, Raja yang Agung! Kau telah melanggar janjimu
padaku karena hati dan perasaanmu telah tertambat pada
bayi ini. Itu artinya, engkau tidak menginginkan aku lagi.
Baiklah, aku tidak akan membunuh bayi ini! Tetapi
sebelum aku pergi dan sebelum engkau menyimpulkan
sesuatu tentang aku, dengarkanlah ceritaku ini.
Aku adalah bidadari yang dipaksa memainkan lakon
duka ini karena sumpah Resi Wasistha. Sesungguhnya
aku ini Batari Gangga yang dipuja para dewa dan manusia.
Resi Wasistha telah menimpakan kutuk-pastu kepada
delapan wasu yang akan terpaksa lahir ke bumi ini. Para
wasu itu kemudian memohon agar aku bersedia menjadi
ibu mereka. Dengan perkenanmu, Raja Santanu, aku
melahirkan mereka ke dunia, sebagai anak-anakmu.
Sebagai balas budi karena telah menolong mereka, kelak
engkau akan mencapai tempat yang mulia tinggi di alam
baka.
Sekarang, aku akan membawa bayi ini dan mengasuh-
nya sampai dia cukup besar dan tiba waktunya untuk
kuserahkan kembali kepadamu. Anak ini akan menjadi
lambang dan kenangan atas cinta kita berdua.”
Setelah berkata demikian, Batari Gangga menghilang
bersama bayinya. Kelak, bayi itu dikenal dengan nama
Bhisma dan menjadi kesatria sakti yang termasyhur.
***
Terkisahlah bagaimana asal mulanya hingga para wasu itu
menerima kutuk-pastu dari Resi Wasistha.
Pada suatu hari, kedelapan wasu itu berjalan-jalan di
pegunungan bersama istri-istri mereka. Di pegunungan itu
terdapat pertapaan Resi Wasistha. Mereka masuk ke
pertapaan itu, tetapi sang Resi tidak ada. Di pelatarannya,
seorang wasu melihat Nandini, sapi kepunyaan sang Resi,
sedang makan rumput. Nandini tampak indah, sehat dan
menawan.
Istri-istri para wasu itu terpesona oleh keelokan
Nandini. Salah seorang dari mereka meminta suaminya
menangkap sapi itu.
Suaminya berkata, “Apa gunanya sapi itu bagi kita para
Dewa? Nandini adalah kepunyaan Resi Wasistha yang
menguasai daerah ini. Karena kesaktian sang Resi,
susunya akan membuat orang yang meminumnya hidup
abadi. Tapi, apa gunanya bagi kita karena sebagai dewa
kita sudah ditakdirkan hidup abadi? Janganlah kita
serakah. Biarkan sapi itu tenang merumput. Lagi pula,
kalau celaka kita bisa kena kutuk-pastu dan murka Resi
Wasistha — hanya karena menuruti hasrat dan kesenang-
an belaka.”
Tetapi istrinya tak mengindahkan hal itu. Ia berkata,
“Aku punya teman yang sangat kukasihi. Dia manusia
biasa. Aku ingin memberikan susu Nandini kepadanya
agar ia bisa hidup abadi. Demi dialah aku memintamu
menangkap Nandini. Sebelum Resi Wasistha kembali ke
pertapaan ini, kita sudah pergi jauh dari sini sambil
membawa sapi itu. Lakukanlah demi keinginanku, karena
permintaanku ini sangat berharga bagiku.”
Akhirnya, suaminya menurut. Kedelapan wasu itu
bersama-sama menangkap Nandini dan anaknya, lalu
melarikannya jauh-jauh.
Ketika Resi Wasistha kembali ke pertapaan, Nandini
dan anaknya tak dilihatnya. Sapi kesayangannya itu hilang
bersama seekor anaknya. Sapi yang selama ini memberi-
nya hidup dan tak dapat dipisahkan kegunaannya dalam
upacara persembahan setiap hari.
Berkat kekuatan yoganya, sang Resi mengetahui apa
yang telah terjadi. Alangkah murkanya dia. Dengan lan-
tang ia mengucapkan kutuk-pastu, mengutuk para wasu.
Karena kutukan itu, para wasu akan terlahir ke dunia dan
hidup sebagai manusia yang menderita. Itulah hukuman
bagi mereka yang telah merampas satu-satunya harta
berharga miliknya.
Ketika para wasu tahu bahwa mereka kena kutuk-
pastu, mereka sangat menyesal. Tapi... penyesalan selalu
datang terlambat. Segera mereka kembali ke pertapaan
Resi Wasistha, mengembalikan Nandini dan anaknya, lalu
bersimpuh di depan sang Resi, memohon ampun atas dosa
mereka.
Resi Wasistha berkata, “Kutuk-pastu telah terucapkan
dan akan berlaku pada waktunya. Wasu yang melarikan
sapiku akan hidup lama di dunia dalam kemewahan dan
kesenangan duniawi, tetapi wasu-wasu lain akan terlepas
dari kutuk ini segera setelah dilahirkan sebagai manusia.
Aku tak bisa menarik kutukanku, tetapi aku bisa melu-
nakkannya.”
Kemudian Resi Wasistha bersemadi. Diatur napasnya,
ditenangkan pikirannya, dan diredakan amarahnya.
Sesungguhnya, seorang resi yang sedang ber-tapabrata
memang bisa memperoleh kesaktian untuk mengutuk-
pastu. Tetapi, setiap kali ia menggunakan kesaktiannya
untuk melontarkan kutuk-pastu, derajat kesucian yang
telah berhasil dicapainya akan berkurang.
Para wasu merasa lega karena ada kemungkinan
kutukan itu akan dilunakkan. Kemudian pergilah mereka
menghadap Dewi Gangga dan memohon, “Kami datang
memujamu, Batari. Kami mohon, sudilah kiranya Batari
menjadi ibu kami. Kami mohon agar Batari bersedia turun
ke mayapada dan menikah dengan seorang raja. Kelak,
satu per satu dari kami akan terlahir lewat rahim Paduka.
Dan, segera setelah kami lahir, buanglah kami ke dalam
sungai agar kami terbebas dari kutuk-pastu.”
Dewi Gangga mengabulkan permohonan mereka. Ia
turun ke bumi, di tepi Sungai Gangga. Di sana ia bertemu
dengan Raja Santanu yang kemudian menyuntingnya
menjadi permaisurinya.
***
Kembali ke kisah Dewi Gangga yang meninggalkan Raja
Santanu. Sang Dewi menghilang bersama bayinya yang
kedelapan dan tidak pernah muncul kembali. Sejak itu,
sang Raja meninggalkan kesenangan duniawi dan
memerintah kerajaannya dengan lebih bijaksana serta
didasari semangat kerokhanian.
Pada suatu hari, Raja Santanu berjalan-jalan di tepi
Sungai Gangga. Ia melamun, mengenangkan saat-saat per-
temuannya dengan Dewi Gangga. Sungguh kenangan yang
sangat indah namun meninggalkan kepedihan di hati.
Kemudian dia melihat seorang anak laki-laki yang dikeli-
lingi aura kemegahan dan keagungan dari Dewendra, raja
dari segala dewa dan batara, anak kecil yang sedang tum-
buh menjadi remaja. Anak itu sedang bermain panah.
Berkali-kali ia melepas anak panah-anak panah dari
busurnya, mengarahkannya ke seberang Sungai Gangga.
Tak terlihat siapa-siapa di dekatnya. Begitu pula di
seberang sungai. Raja Santanu takjub dan terharu melihat
ketampanan dan ketangkasan anak itu. Raja mendekati
anak itu, ingin bertanya padanya. Tetapi... tiba-tiba dia
melihat Dewi Gangga muncul di hadapannya.
Dewi Gangga berkata dengan lemah lembut, “Wahai,
Paduka Raja, inilah anak kita yang kedelapan. Dia kuna-
mai Dewabrata dan kuasuh hingga mahir berolah senjata,
menguasai ilmu perang dan memiliki kesaktian yang setara
dengan kesaktian Parasurama. Ia telah mempelajari Weda
dan falsafah Wedanta dari Resi Wasistha. Kecuali itu, ia
juga menguasai kesenian, kebudayaan dan ilmu gaib San-
jiwini yang dikuasai Sukra. Sambutlah anak ini. Terimalah
dan asuhlah dalam istanamu. Kelak dia akan menjadi
kesatria besar, ahli siasat perang dan senapati agung.”
tidak peduli siapa pun engkau. Aku terpesona oleh
kecantikanmu dan jatuh cinta padamu. Siapakah engkau
dan dari manakah asalmu?” kata Raja Santanu kepada
seorang gadis jelita yang berdiri di hadapannya.
Sesungguhnya gadis itu adalah Dewi Gangga, bidadari
kahyangan yang turun ke bumi dalam wujud manusia.
Parasnya yang cantik, lekuk tubuhnya yang indah, dan
tindak-tanduknya yang halus membuat Raja Santanu
terpikat dan bangkit gairah asmaranya.
Sang Raja berjanji akan mempersembahkan seluruh
cinta, kekayaan, dan kerajaannya —bahkan seluruh
hidupnya— kepada gadis jelita itu.
Tanpa curiga atas pertanyaan Raja Santanu, gadis itu
menjawab, “Wahai Raja perkasa, hamba bersedia menjadi
istri Paduka asalkan Paduka berjanji memenuhi syarat-
syarat hamba.”
“Apakah itu?” tanya Raja Santanu tak sabar.
“Pertama, jika hamba sudah menjadi istri Paduka, tak
seorang pun, tidak juga Paduka, boleh bertanya siapa
sesungguhnya hamba dan dari mana asal-usul hamba.
Kedua, apa pun yang hamba lakukan —baik atau buruk,
benar atau salah, wajar atau ganjil— Paduka tidak boleh
menghalang-halangi. Ketiga, Tuanku tidak boleh marah
kepada hamba — dengan alasan apa pun. Keempat, Padu-
ka tidak boleh mengatakan sesuatu yang membuat pera-
“W
saan hamba tidak enak.
“Begitu Tuanku melanggar syarat-syarat itu —walau
hanya satu— hamba akan meninggalkan Tuanku saat itu
juga. Apakah Tuanku setuju dan bersedia berjanji untuk
tidak melanggarnya?”
Tanpa berpikir panjang, Raja Santanu yang sedang
dimabuk asmara langsung bersumpah akan memenuhi
semua syarat yang dikatakan si gadis jelita.
Demikianlah, tanpa mengenal siapa namanya dan tanpa
mengetahui dari mana asal-usulnya, Raja Santanu mem-
persunting gadis jelita yang ditemukannya di tepi Sungai
Gangga. Dibawanya gadis itu ke istana dan dinobatkannya
menjadi permaisurinya.
Hari demi hari berlalu. Raja Santanu semakin mencintai
permaisurinya yang jelita, lebih-lebih karena selain cantik,
permaisurinya itu sangat berbakti kepadanya dan halus
tutur katanya. Kebahagiaan Sang Raja semakin lengkap
ketika tahu permaisurinya mengandung.
Sembilan bulan mereka lewatkan dengan penuh
bahagia. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan tibalah
saatnya Dewi Gangga melahirkan. Sang Dewi pamit kepada
suaminya, mengatakan bahwa dia akan pergi menyendiri
dan melahirkan di tepi Sungai Gangga. Dia tak mau
ditemani siapa pun, tidak juga sang Raja.
Maka pergilah Dewi Gangga seorang diri. Sampai di tepi
sungai, dia mencari tempat yang teduh dan terlindung
untuk melahirkan. Bayi yang dilahirkannya langsung
dibuangnya ke sungai. Setelah membersihkan diri, sang
Dewi kembali ke istana dengan wajah berseri-seri, seolah-
olah tak terjadi apa-apa.
Raja Santanu menyambutnya dengan penuh harap.
Hatinya bahagia akan menyambut sang bayi, buah kasih-
nya dengan permaisuri yang dicintainya. Tetapi, betapa
kecewanya Raja melihat Dewi Gangga datang tanpa sang
bayi. Perasaan Baginda campur aduk. Heran, melihat istri-
nya kembali tanpa sang bayi. Cemas, memikirkan nasib
sang bayi. Murka, karena permaisurinya tampak tenang
dan tidak merasa bersalah. Raja merasa berdosa, karena
tak kuasa berbuat apa pun kecuali diam seribu bahasa.
Tak berani bertanya. Tak berani melanggar sumpah yang
telah diucapkannya.
Raja Santanu, yang terlanjur mencintai dan terpesona
oleh kecantikan permaisurinya, tak berani bertanya
sepatah kata pun. Disambutnya sang Dewi dengan mesra,
seakan-akan tak terjadi apa-apa. Mereka melanjutkan
kehidupan seperti biasa.
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Dewi
Gangga kembali hamil dan ketika tiba saatnya melahirkan,
sekali lagi dia mohon diri hendak menyepi di tepi Sungai
Gangga. Syarat yang diajukannya tetap sama: tak seorang
pun boleh mengikutinya.
Hal yang sama terulang. Sang Dewi kembali ke istana
tanpa menggendong bayi. Sang Raja, dengan perasaan ter-
tekan, menyambut istrinya seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Demikianlah, kejadian itu berulang sampai tujuh kali.
Tetapi, pada kehamilan yang kedelapan, Raja Santanu tak
kuasa menahan diri lagi. Sudah lama ia bertanya-tanya
dalam hati, siapa dan dari mana asal perempuan kejam
yang menjadi istrinya itu. Di mana semua anak yang telah
dilahirkannya? Sungguh kejam ibu yang menelantarkan
bayi-bayinya.
Diam-diam Raja membuntuti istrinya ke tepi Sungai
Gangga. Alangkah terkejutnya Baginda melihat sang Dewi
mengangkat bayi yang baru dilahirkannya dan siap mence-
burkannya ke dalam sungai. Tanpa berpikir panjang dan
lupa akan sumpahnya, Baginda berteriak lantang, “Henti-
kan! Ini pembunuhan kejam! Rupanya kau tega membu-
nuh bayi-bayimu yang tidak berdosa!” Sambil berteriak
demikian, Raja mencengkeram tangan Dewi Gangga, mena-
hannya agar tidak melaksanakan perbuatan terkutuk itu.
“Wahai, Raja yang Agung! Kau telah melanggar janjimu
padaku karena hati dan perasaanmu telah tertambat pada
bayi ini. Itu artinya, engkau tidak menginginkan aku lagi.
Baiklah, aku tidak akan membunuh bayi ini! Tetapi
sebelum aku pergi dan sebelum engkau menyimpulkan
sesuatu tentang aku, dengarkanlah ceritaku ini.
Aku adalah bidadari yang dipaksa memainkan lakon
duka ini karena sumpah Resi Wasistha. Sesungguhnya
aku ini Batari Gangga yang dipuja para dewa dan manusia.
Resi Wasistha telah menimpakan kutuk-pastu kepada
delapan wasu yang akan terpaksa lahir ke bumi ini. Para
wasu itu kemudian memohon agar aku bersedia menjadi
ibu mereka. Dengan perkenanmu, Raja Santanu, aku
melahirkan mereka ke dunia, sebagai anak-anakmu.
Sebagai balas budi karena telah menolong mereka, kelak
engkau akan mencapai tempat yang mulia tinggi di alam
baka.
Sekarang, aku akan membawa bayi ini dan mengasuh-
nya sampai dia cukup besar dan tiba waktunya untuk
kuserahkan kembali kepadamu. Anak ini akan menjadi
lambang dan kenangan atas cinta kita berdua.”
Setelah berkata demikian, Batari Gangga menghilang
bersama bayinya. Kelak, bayi itu dikenal dengan nama
Bhisma dan menjadi kesatria sakti yang termasyhur.
***
Terkisahlah bagaimana asal mulanya hingga para wasu itu
menerima kutuk-pastu dari Resi Wasistha.
Pada suatu hari, kedelapan wasu itu berjalan-jalan di
pegunungan bersama istri-istri mereka. Di pegunungan itu
terdapat pertapaan Resi Wasistha. Mereka masuk ke
pertapaan itu, tetapi sang Resi tidak ada. Di pelatarannya,
seorang wasu melihat Nandini, sapi kepunyaan sang Resi,
sedang makan rumput. Nandini tampak indah, sehat dan
menawan.
Istri-istri para wasu itu terpesona oleh keelokan
Nandini. Salah seorang dari mereka meminta suaminya
menangkap sapi itu.
Suaminya berkata, “Apa gunanya sapi itu bagi kita para
Dewa? Nandini adalah kepunyaan Resi Wasistha yang
menguasai daerah ini. Karena kesaktian sang Resi,
susunya akan membuat orang yang meminumnya hidup
abadi. Tapi, apa gunanya bagi kita karena sebagai dewa
kita sudah ditakdirkan hidup abadi? Janganlah kita
serakah. Biarkan sapi itu tenang merumput. Lagi pula,
kalau celaka kita bisa kena kutuk-pastu dan murka Resi
Wasistha — hanya karena menuruti hasrat dan kesenang-
an belaka.”
Tetapi istrinya tak mengindahkan hal itu. Ia berkata,
“Aku punya teman yang sangat kukasihi. Dia manusia
biasa. Aku ingin memberikan susu Nandini kepadanya
agar ia bisa hidup abadi. Demi dialah aku memintamu
menangkap Nandini. Sebelum Resi Wasistha kembali ke
pertapaan ini, kita sudah pergi jauh dari sini sambil
membawa sapi itu. Lakukanlah demi keinginanku, karena
permintaanku ini sangat berharga bagiku.”
Akhirnya, suaminya menurut. Kedelapan wasu itu
bersama-sama menangkap Nandini dan anaknya, lalu
melarikannya jauh-jauh.
Ketika Resi Wasistha kembali ke pertapaan, Nandini
dan anaknya tak dilihatnya. Sapi kesayangannya itu hilang
bersama seekor anaknya. Sapi yang selama ini memberi-
nya hidup dan tak dapat dipisahkan kegunaannya dalam
upacara persembahan setiap hari.
Berkat kekuatan yoganya, sang Resi mengetahui apa
yang telah terjadi. Alangkah murkanya dia. Dengan lan-
tang ia mengucapkan kutuk-pastu, mengutuk para wasu.
Karena kutukan itu, para wasu akan terlahir ke dunia dan
hidup sebagai manusia yang menderita. Itulah hukuman
bagi mereka yang telah merampas satu-satunya harta
berharga miliknya.
Ketika para wasu tahu bahwa mereka kena kutuk-
pastu, mereka sangat menyesal. Tapi... penyesalan selalu
datang terlambat. Segera mereka kembali ke pertapaan
Resi Wasistha, mengembalikan Nandini dan anaknya, lalu
bersimpuh di depan sang Resi, memohon ampun atas dosa
mereka.
Resi Wasistha berkata, “Kutuk-pastu telah terucapkan
dan akan berlaku pada waktunya. Wasu yang melarikan
sapiku akan hidup lama di dunia dalam kemewahan dan
kesenangan duniawi, tetapi wasu-wasu lain akan terlepas
dari kutuk ini segera setelah dilahirkan sebagai manusia.
Aku tak bisa menarik kutukanku, tetapi aku bisa melu-
nakkannya.”
Kemudian Resi Wasistha bersemadi. Diatur napasnya,
ditenangkan pikirannya, dan diredakan amarahnya.
Sesungguhnya, seorang resi yang sedang ber-tapabrata
memang bisa memperoleh kesaktian untuk mengutuk-
pastu. Tetapi, setiap kali ia menggunakan kesaktiannya
untuk melontarkan kutuk-pastu, derajat kesucian yang
telah berhasil dicapainya akan berkurang.
Para wasu merasa lega karena ada kemungkinan
kutukan itu akan dilunakkan. Kemudian pergilah mereka
menghadap Dewi Gangga dan memohon, “Kami datang
memujamu, Batari. Kami mohon, sudilah kiranya Batari
menjadi ibu kami. Kami mohon agar Batari bersedia turun
ke mayapada dan menikah dengan seorang raja. Kelak,
satu per satu dari kami akan terlahir lewat rahim Paduka.
Dan, segera setelah kami lahir, buanglah kami ke dalam
sungai agar kami terbebas dari kutuk-pastu.”
Dewi Gangga mengabulkan permohonan mereka. Ia
turun ke bumi, di tepi Sungai Gangga. Di sana ia bertemu
dengan Raja Santanu yang kemudian menyuntingnya
menjadi permaisurinya.
***
Kembali ke kisah Dewi Gangga yang meninggalkan Raja
Santanu. Sang Dewi menghilang bersama bayinya yang
kedelapan dan tidak pernah muncul kembali. Sejak itu,
sang Raja meninggalkan kesenangan duniawi dan
memerintah kerajaannya dengan lebih bijaksana serta
didasari semangat kerokhanian.
Pada suatu hari, Raja Santanu berjalan-jalan di tepi
Sungai Gangga. Ia melamun, mengenangkan saat-saat per-
temuannya dengan Dewi Gangga. Sungguh kenangan yang
sangat indah namun meninggalkan kepedihan di hati.
Kemudian dia melihat seorang anak laki-laki yang dikeli-
lingi aura kemegahan dan keagungan dari Dewendra, raja
dari segala dewa dan batara, anak kecil yang sedang tum-
buh menjadi remaja. Anak itu sedang bermain panah.
Berkali-kali ia melepas anak panah-anak panah dari
busurnya, mengarahkannya ke seberang Sungai Gangga.
Tak terlihat siapa-siapa di dekatnya. Begitu pula di
seberang sungai. Raja Santanu takjub dan terharu melihat
ketampanan dan ketangkasan anak itu. Raja mendekati
anak itu, ingin bertanya padanya. Tetapi... tiba-tiba dia
melihat Dewi Gangga muncul di hadapannya.
Dewi Gangga berkata dengan lemah lembut, “Wahai,
Paduka Raja, inilah anak kita yang kedelapan. Dia kuna-
mai Dewabrata dan kuasuh hingga mahir berolah senjata,
menguasai ilmu perang dan memiliki kesaktian yang setara
dengan kesaktian Parasurama. Ia telah mempelajari Weda
dan falsafah Wedanta dari Resi Wasistha. Kecuali itu, ia
juga menguasai kesenian, kebudayaan dan ilmu gaib San-
jiwini yang dikuasai Sukra. Sambutlah anak ini. Terimalah
dan asuhlah dalam istanamu. Kelak dia akan menjadi
kesatria besar, ahli siasat perang dan senapati agung.”
Mahabarata BAB 1 Cinta Dhusmanta terpaut di hutan
Pada suatu hari Raja Dushmanta yang tampan dan
gagah perkasa pergi berburu bersama balatentaranya
yang kuat dan bersenjata lengkap. Setelah berjalan bebe-
rapa lama, tibalah mereka di hutan lebat dengan pohonnya
yang besar-besar. Tanah di hutan itu berbatu-batu, seba-
tang air pun tak tampak di sana. Macan, singa, gajah,
banteng, badak dan binatang buas lainnya berkeliaran.
Raja Dushmanta dan balatentaranya memburu gajah. Raja
memerintahkan balatentaranya untuk mengumpulkan
hasil buruan yang sudah mati. Tetapi, gajah-gajah yang
terluka dan belum mati mengamuk menyerang balatentara
Raja. Korban berjatuhan. Ada prajurit yang mati dililit
belalai, ditusuk gading, atau diinjak-injak gajah. Mereka
yang selamat terus memburu binatang-binatang itu hingga
mereka lari cerai-berai masuk ke hutan yang lebih lebat.
Setelah puas berburu, Raja Dushmanta dan bala-
tentaranya meneruskan Perjalanan. Mereka menyeberangi
padang rumput yang tandus dan sangat luas. Hamparan
rumput terbentang sampai ke kaki langit. Setelah
menempuh perjalanan beberapa hari, mereka sampai di
tepi hutan lain. Penduduk desa di tepi hutan itu berkata,
di hutan itu ada pertapaan Resi Kanwa, seorang keturunan
Kasyapa yang termasyhur. Raja Dushmanta memutuskan
untuk berhenti berburu dan mengunjungi Resi Kanwa.
Ia menyuruh balatentaranya menunggu, sementara ia
masuk ke dalam hutan diiringkan beberapa pengiring. Ia
P
berjalan menembus pepohonan yang tidak terlalu lebat,
sampai ke tepian sungai kecil yang jernih airnya. Di tepi
sungai itulah terletak pertapaan Resi Kanwa. Pertapaan itu
tampak bersih dan asri. Bunga-bunga aneka warna mekar
harum semerbak menyemarakkan pelatarannya. Di luar
pertapaan, sampai jauh ke dalam hutan, tampak
bermacam-macam pohon yang dahannya sarat dengan
buah-buah ranum yang menerbitkan liur. Suasana di situ
sungguh teduh dan tenang.
Sampai di gerbang pertapaan, Raja memerintahkan
semua pengiringnya menunggu. Sendirian ia masuk ke
halaman pertapaan. Di sana ia tidak menemukan siapa-
siapa, kecuali seorang gadis cantik yang mengenakan
pakaian pertapa.
Setelah menyampaikan penghormatan selamat datang,
gadis cantik itu bertanya, “Nama hamba Syakuntala. Apa
yang dapat hamba lakukan untuk Tuanku? Hamba
menanti sabda Paduka.”
Raja Dushmanta menjawab, “Aku terpesona oleh kecan-
tikanmu, wahai putri jelita. Di manakah Resi Kanwa yang
termasyhur itu?”
Syakuntala menjawab, “Bapa hamba sedang pergi
memetik buah-buahan. Kalau Tuanku sudi menunggu
sebentar, Tuanku bisa menemuinya setelah beliau kembali
nanti.”
Sambil memandangi wajah ayu Syakuntala, Raja Dush-
manta bertanya, “Siapakah sebenarnya engkau putri jelita?
Putri siapakah engkau dan mengapa engkau tinggal di
hutan ini? Wahai, putri jelita, hatiku telah tercuri olehmu
pada pandangan pertama.”
Syakuntala menjawab sambil tersenyum, “Oh, Tuanku,
hamba adalah anak Resi Kanwa.”
Mendengar jawaban itu, Raja Dushmanta tercengang
dan bertanya lagi, “Resi yang sangat dihormati di jagad ini
telah mengumbar nafsu birahinya? Jika orang biasa
berniat melaksanakan dharma, bisa saja dia lalai. Tetapi,
seorang resi yang suci telah bersumpah tidak akan
membiarkan gejolak nafsu menjerumuskannya. Wahai
putri cantik, bagaimana mungkin Tuan ini anak Resi
Kanwa? Maafkan aku karena ragu. Jawablah dan hapuslah
keraguanku ini.”
Syakuntala berkata, “Baiklah, akan hamba ceritakan
asal-usul hamba sebagaimana yang Bapa Resi ceritakan
kepada seorang pertapa pengembara yang datang meng-
hadap dan bertanya tentang diri hamba. Begini ceritanya...
‘Adalah seorang pria sakti bernama Wiswamitra yang
tidak puas akan kesaktiannya. Untuk membuat dirinya
semakin sakti, dia terus-menerus bertapa dengan khu-
syuk. Begitu kuat tapanya, hingga Batara Indra ketakutan.
Batara Indra tahu, jika tapa Wiswamitra berhasil, pria itu
akan mampu menggulingkannya dari takhtanya di
Indraloka atau kahyangan. Untuk menggagalkan tapa
Wismamitra, Batara Indra memanggil Dewi Menaka dan
diperintahkannya bidadari itu untuk menggodanya.
‘Dewi Menaka berkata, “Paduka Batara, Wiswamitra
adalah seorang suci yang sangat sakti dan berkuasa. Ia
juga sangat gampang marah. Kekuatan, ketekunan dan
dendam jiwanya yang teramat keras sudah membuat
Paduka Batara khawatir. Apalagi hamba, hamba takut
menghadapinya. Dialah yang membuat Wasistha menderita
kesedihan yang mendalam karena melihat anak-anaknya
mati sebelum dewasa. Dia dilahirkan sebagai kesatria,
tetapi karena kebajikan dharma-nya dan kesaktiannya
yang mendalam dia menjadi brahmana.... Dia mampu
membakar tiga dunia, neraka, bumi, dan kahyangan
dengan kesaktiannya, ia juga mampu membuat gempa
bumi. Karena kesaktiannya itu, ya Paduka Batara, bantu-
lah hamba waktu hamba menggoda dia. Hamba mohon
agar Maruta, sang Dewa Angin menyebarkan wewangian
dari pohon-pohon hutan. Waktu hamba bermain-main di
dekatnya nanti, hamba mohon Dewa Angin menerbangkan
pakaian hamba dan Manamatha sang Dewa Cinta
sebaiknya juga membantu hamba.”
‘Setelah berkata demikian, pergilah Dewi Menaka ke
tempat Wiswamitra bertapa. Sesampainya di depan pertapa
sakti itu, ia memberi salam hormat. Kemudian, mulailah
dia merayu. Ketika itu berhembuslah angin kencang,
melambaikan ujung bawah pakaiannya hingga betisnya
yang indah tampak sekilas. Tapi, angin bertiup semakin
kencang dan akhirnya menerbangkan pakaiannya. Tanpa
busana, Dewi Menaka pura-pura malu dan hendak
mengejar pakaiannya. Tak kuasa mengalihkan pandangan-
nya, Wiswamitra terpesona oleh keindahan payudara Dewi
Menaka. Ia tergoda, tak mampu melanjutkan tapanya.
Gagal. Wiswamitra menghentikan tapanya, memilih sang
Dewi, dan mereka hidup bersama.
‘Beberapa waktu kemudian, Dewi Menaka mengandung.
Ketika tiba saatnya melahirkan, ia pergi ke tepi Sungai
Malini di lembah Gunung Himalaya yang indah. Di sana ia
melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi itu ditinggalkan-
nya di tepi sungai lalu ia terbang kembali ke kahyangan.
‘Bayi itu dipungut dan diangkat anak oleh Resi Kanwa.
Karena ketika ditemukan dilindungi oleh burung-burung
syakuntala, maka bayi itu diberi nama Syakuntala dan
anak itu menganggap Resi Kanwa sebagai ayahnya.’
“Itulah cerita yang pernah hamba dengar dari Resi
Kanwa, Paduka Raja,” kata Syakuntala mengakhiri
ceritanya.
Mendengar cerita itu, Raja Dushmanta berkata, “Meni-
kahlah denganku, wahai Syakuntala yang jelita. Seluruh
kerajaanku akan menjadi milikmu. Maukah kau menikah
denganku sekarang juga dengan upacara gandharwa?
Upacara gandharwa adalah yang paling utama dalam
keadaan seperti ini.”
Syakuntala menjawab, “Oh, Tuanku Raja, tunggulah
sampai Bapa Resi datang. Mintalah ijin lebih dulu pada
beliau. Hamba yakin, Bapa Resi pasti merestui kita.”
Dushmanta berkata lagi, “Wahai putri nan jelita dan
sempurna, aku ingin engkau menjadi pendampingku.
Menurut hukum penciptaan, seseorang adalah teman bagi
dirinya sendiri dan karena itu ia bertanggung jawab atas
dirinya sendiri; dia sendirilah yang menentukan segala
sesuatu tentang dirinya sendiri. Menurut hukum itu,
engkau dapat merestui dirimu sendiri. Dan ketahuilah, di
jagad ini ada delapan macam perkawinan. Manu, sang
manusia pertama, merumuskan delapan jenis perkawinan,
lengkap dengan urutan upacaranya. Cara gandharwa
adalah yang paling sesuai dengan sifat kesatria. Janganlah
engkau takut, jangan pula merasa bimbang dan ragu.
Wahai putri tercantik, hatiku penuh cinta kepadamu,
semoga engkau pun demikian. Kabulkanlah permintaanku
dan kita menikah sekarang juga.”
Mendengar itu Syakuntala berkata, “Bila itu memang
cara yang dibenarkan oleh agama, dan bila sesungguhnya
hamba berhak memutuskan untuk diri hamba sendiri,
dengarkanlah wahai pria utama keturunan bangsa Puru,
ada syarat-syarat yang harus Paduka penuhi! Berjanjilah
bahwa apa pun yang hamba pinta akan Paduka kabulkan.
Anak laki-laki yang akan hamba lahirkan hendaknya kelak
menjadi ahli waris kerajaan Paduka. Itulah syarat hamba!
Wahai Raja Dusmanta, jika Tuanku menerima syarat ini,
hamba bersedia menikah sekarang juga.”
Tanpa mempertimbangkan syarat-syarat yang diajukan
Syakuntala, Raja Dushmanta menjawab, “Baiklah, akan
kupenuhi semua permintaanmu! Aku bahkan bermaksud
memboyongmu ke istana setelah kita menikah. Sebagai
permaisuriku, sepantasnyalah engkau tinggal di istanaku.”
Kemudian, Dushmanta dan Syakuntala menikah secara
gandharwa. Mereka bergandengan tangan mengelilingi api
suci sambil mengucapkan mantra-mantra. Maka sahlah
hubungan mereka sebagai suami-istri.
Dalam keasyikan memadu kasih, Dushmanta berulang-
ulang berjanji kepada Syakuntala bahwa ia akan mengirim
seorang utusan untuk menjemputnya. Utusan itu akan
dikawal sepasukan prajurit kehormatan. Digambarkannya
bagaimana Syakuntala akan masuk ke kota diiringkan
utusannya dan pasukan kehormatan serta dielu-elukan
oleh rakyatnya. Setelah mengumbar janji dan puas
berasyik masyuk, Raja Dushmanta kembali ke kota raja.
Dalam perjalanan ke istana ia berpikir-pikir, “Apa kata
Resi Kanwa yang suci dan agung itu jika mengetahui
semua ini?”
Tak lama setelah Raja Dushmanta pergi, Resi Kanwa
tiba di pertapaannya. Syakuntala yang merasa malu dan
bersalah tidak menyongsongnya, seperti biasanya. Tanpa
ada yang memberi tahu dan karena kesaktiannya, resi
agung itu mengerti apa yang telah terjadi.
Dengan kekuatan mata hatinya, Resi Kanwa meman-
dang putri angkatnya. Kemudian, dengan perasaan senang
dan lega ia berkata kepada Syakuntala, “Anakku sayang,
apa yang telah kaulakukan secara diam-diam dan sem-
bunyi-sembunyi tanpa menunggu restuku? Aku tahu,
engkau sudah menikah dengan seorang lelaki. Tak usah
kau cemas, pernikahan itu takkan menghancurkan kebaji-
kanmu. Sesungguhnya, upacara perkawinan gandharwa
antara seorang wanita yang bersedia dengan seorang laki-
laki yang mencintainya adalah salah satu upacara terbaik
di antara cara-cara kesatria. Dushmanta seorang lelaki
yang baik dan berbudi tinggi. Engkau, anakku Syakuntala,
telah menerima dia sebagai suamimu. Anak laki-laki yang
akan kaulahirkan, akan menjadi pemuda yang kuat dan
ternama di seluruh dunia. Ia akan menguasai lautan dan
dikaruniai kesaktian yang tak terkalahkan. Dia akan
menjadi raja diraja dan punya berlaksa-laksa balatentara
perkasa.”
Syakuntala bersimpuh di depan ayah angkatnya dan
membasuh kaki sang Resi. Kemudian, sambil menata
buah-buahan yang dipetik sang Resi, Syakuntala berkata,
“Hamba mohon, Bapa Resi berkenan merestui Dushmanta
yang telah hamba terima sebagai suami. Hamba juga
mohonkan restu untuk rakyat dan kerajaannya.”
Resi Kanwa menjawab, “Demi kau, anakku sayang, aku
akan merestui Dushmanta. Tetapi untukmu sendiri, pinta-
lah hadiah yang kauinginkan.”
Syakuntala ingin agar keturunannya dengan Raja
Dushmanta kekal sampai ke akhir jaman. Karena itu, ia
memohon hadiah restu dari Resi Kanwa agar raja-raja
Paurawa, yaitu raja-raja keturunan wangsa Puru tidak
akan pernah kehilangan kerajaannya dan senantiasa
ternama di seluruh dunia.
Ketika tiba waktunya, Syakuntala melahirkan seorang
bayi laki-laki yang sehat. Waktu berumur tiga tahun, anak
itu sudah kelihatan tampan, agung, perwira, tangkas dan
terampil serta pandai dalam berbagai ilmu pengetahuan.
Hari demi hari berlalu, kesaktian anak itu semakin
bertambah dan nyata terlihat. Dengan mudah ia menak-
lukkan binatang-binatang buas yang berkeliaran di sekitar
pertapaan. Para resi pertapa di hutan itu menyebut dia
dengan nama Sarwadamana, artinya ‘sang penakluk
semua’.
Demikianlah, tiga tahun berlalu ... Jangankan mengirim
utusan untuk menjemput, mengirim pesan atau kabar pun
Raja Dushmanta tidak pernah. Apakah Dushmanta sudah
melupakan Syakuntala?
Pada suatu hari Resi Kanwa memanggil Syankuntala,
menyuruhnya agar menghadap sang Raja. Resi itu berpen-
dapat bahwa sudah tiba waktunya untuk mengantarkan
Sarwadamana menghadap ayahnya. Katanya, “Anakku,
wanita yang sudah menikah tak boleh terus-menerus
tinggal di rumah orangtuanya karena ia takkan dapat
menjalankan kewajibannya terhadap suaminya dan kebaji-
kannya akan rusak.”
Setelah mohon diri dan mendapat restu Resi Kanwa,
berangkatlah Syakuntala dan Sarwadamana diiringkan
beberapa resi sebagai pengawal. Berhari-hari mereka berja-
lan menembus hutan, menyusuri sungai, dan menyebe-
rangi padang rumput luas sebelum akhirnya tiba di
gerbang istana Hastinapura.
Dengan hati berdebar-debar, Syakuntala dan anaknya
memasuki gerbang istana dan minta dibawa menghadap
sang Raja. Setelah mengucapkan salam hormat sepatut-
nya, ia berkata kepada Raja, “Inilah hamba Tuanku,
Syakuntala, istri Paduka dari pertapaan Resi Kanwa.
Lihatlah, wahai Paduka, anak yang tampan ini. Dia adalah
putra Paduka yang selama ini hamba asuh di pertapaan.
Wahai Raja termulia di dunia, penuhilah janji Paduka dan
nobatkanlah dia menjadi putra mahkota. Ingatkah Paduka
akan janji yang Tuan ucapkan waktu kita menjalankan
upacara perkawinan gandharwa di pertapaan Resi Kanwa
dahulu?”
Mendengar perkataan Syakuntala, Raja Dushmanta
ingat semua yang telah terjadi. Tetapi, ia malu. Di hadapan
para perwira dan menteri kerajaan, ia malu mengakui
perkawinannya dengan gadis pertapa yang tak jelas asal
keturunannya. Untuk menutupi rasa malunya, ia berkata
dengan marah, “Berani benar engkau bicara seperti itu!
Aku tak kenal kau! Aku tak pernah bertemu kau! Siapakah
engkau, hai perempuan jahanam yang menyamar menjadi
pertapa suci? Aku tidak punya hubungan apa pun
denganmu, baik karena dharma, kama maupun artha. *
Enyahlah engkau dari sini dan jangan pernah kembali!”
Mendengar kata-kata Raja, Syakuntala sangat kaget,
bagai disambar halilintar. Sekonyong-konyong kesedihan
menghunjam hatinya, membuatnya terpana, tegak berdiri
bagai tonggak, tak sadarkan diri. Tetapi... kemudian
matanya memerah, merah saga bagai besi terbakar.
Bibirnya bergetar menahan perasaannya. Dengan sorot
mata tajam ia memandang sang Raja, seakan hendak
membakarnya hidup-hidup dengan api kemarahannya.
Namun, karena terbiasa hidup sebagai pertapa, Syakuntala
berhasil memusatkan pikiran sucinya dan menahan
kemarahannya yang makin memuncak serta kepedihan
hatinya yang seperti disayat-sayat.
Syakuntala pun berkata sambil memandang Raja
dengan tajam, “Dengarlah, wahai Tuanku. Hanya orang
rendah budi yang dengan mudah berdusta dan ingkar
* Ketiga bentuk hubungan yang dimaksud adalah hubungan tugas-
kewajiban hidup, hubungan seksual dan hubungan kekayaan harta-
benda.
janji. Hamba yakin, dalam hati Paduka pasti mengakui
kebenaran kata-kata hamba. Tetapi, mengapa Paduka
memilih berdusta, berkata tak pernah mengenal hamba,
tak pernah menikahi hamba? Hati nurani adalah saksi
atas kebenaran dan kepalsuan.”
Syakuntala diam sejenak. Kemudian melanjutkan
dengan tegas dan penuh amarah. Raja tak lagi disapanya
dengan sebutan Paduka atau Tuanku.
“Jika engkau mengatakan yang sebenarnya, takkan
turun derajatmu. Orang yang mengingkari kenyataan diri-
nya berarti mencuri atau merampok dirinya sendiri.
Kaupikir, kau dapat mengatakan tidak tahu atas perbu-
atanmu sendiri. Tidakkah kau tahu bahwa Yang Maha
Purba, Yang Maha Tahu bersemayam di hatimu? Ia menge-
tahui dosamu, dan kau telah berbuat dosa di hadapanNya.
Seorang pendosa mungkin berpikir bahwa tak seorang pun
tahu akan dosanya, tetapi sesungguhnya segala perbua-
tannya dilihat oleh Dia yang bersemayam di hati setiap
manusia. Orang yang menghina dirinya sendiri dengan
berdusta, tidak akan direstui olehNya, bahkan jiwanya
sendiri pun tidak akan merestui.
“Aku adalah istri yang mengabdi pada suami. Dengan
kemauanku sendiri aku datang kemari untuk menemui
kau, suamiku. Itu benar. Tetapi janganlah karena alasan
itu aku kauperlakukan hina. Aku adalah istrimu, istri raja,
dan karenanya berhak mendapat perlakuan yang terhor-
mat. Apakah engkau tidak bersedia menerimaku karena
aku datang atas kemauanku sendiri? Di hadapan begitu
banyak orang, di istanamu yang megah mulia, mengapa
kauperlakukan aku seperti perempuan biasa? Bukankah
engkau yang memintaku menjadi permaisurimu? Lupakah
engkau? Tidakkah engkau mendengar kata-kataku?
“Wahai Raja Dushmanta, jika engkau menolak apa yang
kupinta, waspadalah ... kepalamu akan pecah menjadi
seribu, seketika ini juga!”
Karena Raja Dushmanta tetap diam, tak menanggapi,
bahkan membuang muka, Syakuntala melanjutkan kata-
katanya.
“Seorang suami yang merasuk ke dalam tubuh istrinya
akan keluar dalam wujud anak. Begitulah yang selayaknya
terjadi. Karena itu seorang istri disebut jaya, yang berarti
‘dari mana seseorang dilahirkan’. Sebutan itu berasal dari
para ahli kitab suci. Anak yang terlahir secara demikian
akan menyelamatkan jiwa nenek-moyangnya dari api nera-
ka dan karena itu disebut putra oleh Sang Pencipta. Kare-
na melalui anaknya seseorang akan mampu menaklukkan
tiga dunia. Melalui anaknya pula seseorang akan dapat
menikmati kedamaian abadi. Dan bersama anak-cucu dan
cicitnya, seseorang akan menikmati kebahagiaan kekal.
“Istri yang sejati pandai mengatur rumah tangga. Istri
yang sejati mengabdikan seluruh jiwanya kepada suami-
nya. Ia bagaikan belahan jiwa suaminya dan menjadi
teman utama di antara semua teman suaminya. Istri ada-
lah dasar agama, keberuntungan, dan hasrat-keinginan.
Istri adalah akar kelepasan untuk mencapai moksha,
kebahagiaan hidup abadi. Ia yang mempunyai istri dapat
melaksanakan hidup berkeluarga dan mempunyai teman
di waktu suka dan duka. Istri berperan sebagai ayah dalam
upacara keagamaan, sebagai ibu di kala sakit dan duka.
Bagi seorang pengembara, istri adalah penghibur di kala
gundah. Ia yang mempunyai istri dipercaya oleh semua
orang. Karena itu, istri adalah harta paling berharga yang
bisa dimiliki seorang lelaki. Ketika suami meninggalkan
dunia ini dan menghadap Batara Yama, istri yang setia
akan mengikutinya ke dunia sana. Istri yang lebih dulu
meninggal akan menanti suaminya di dunia sana, tetapi
jika suami mendahuluinya, istri yang bijaksana akan sege-
ra menyusulnya ke dunia sana.
“Atas dasar semua itulah, wahai Raja Dushmanta,
seorang lelaki menikahi seorang perempuan. Seorang
suami menikmati keakraban seorang istri baik di dunia ini
maupun di dunia sana. Telah dikatakan oleh para arif
bijaksana bahwa seorang suami pada hakikatnya terlahir
sebagai anak lelaki istrinya. Karena itu, istri yang
melahirkan anak laki-laki haruslah dianggap sebagai ibu
sendiri oleh suaminya. Memandang wajah putranya,
seorang lelaki seperti berdiri di depan kaca dan menatap
wajahnya sendiri. Ia akan merasa bahagia ibarat orang
suci yang mencapai surga. Laki-laki yang muram karena
sedih hatinya atau sakit badannya akan merasa segar
kembali di samping istrinya, bagai orang yang kegerahan
mendapat air sejuk untuk membersihkan badan. Tidak
seorang laki-laki pun, bagaimanapun marahnya dia,
dibenarkan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan
istrinya. Istri ibarat tanah suci tempat suaminya dilahir-
kan. Bahkan dewa pun tidak sanggup mencipta makhluk
tanpa wanita. Adakah kebahagiaan yang lebih besar
daripada kebahagiaan seorang ayah waktu anaknya lari ke
dalam pelukannya?
“Karena itu, wahai Raja Mulia, mengapa engkau bersi-
kap tidak peduli pada anakmu yang datang menghadap
ayahnya? Lihatlah, anakmu memandangmu, penuh harap
dan ingin disambut oleh pelukan ayahnya. Seekor semut
saja bisa memindahkan telurnya tanpa merusaknya,
mengapa engkau tidak bisa menerima anak ini? Hatimu
dingin membeku. Kauingkari anakmu, darah dagingmu
sendiri! Coba resapkan, sentuhan lembut seorang wanita
atau segarnya air yang sejuk jernih tak sebanding dengan
kebahagiaan yang akan kaurasakan ketika kausambut dia
dalam pelukanmu.
“Biarlah anak ini menyentuh dan memelukmu. Di dunia
ini, tak ada yang lebih nikmat daripada pelukan anak
kandung kita. Wahai Pahlawan Perkasa Penakluk Musuh,
akulah yang melahirkan anak ini! Wahai Raja, anak inilah
yang akan bisa mengenyahkan segala kesusahanmu.
“Raja bangsa Puru yang mulia, anak ini akan melang-
sungkan upacara aswamedha dengan korban seratus
kuda! Sesungguhnya, orang yang bepergian jauh dari
rumahnya akan menggendong anak orang lain. Dengan
mencium kepala anak itu mereka merasakan kebahagiaan
yang besar. Engkau, wahai Raja, pastilah tahu bahwa para
pendeta mengucapkan doa dari kitab suci Weda waktu
mentahbiskan seorang anak. Doa itu adalah:
kau dilahirkan dari badanku
kau tumbuh dari hati nuraniku
kau adalah diriku sendiri
dalam wujud bayi
hiduplah seratus tahun lagi
hidupku tergantung padamu
juga kelangsungan bangsaku
wahai anakku, justru kepadaNya
wahai anakku, justru karenaNya
hiduplah kau penuh bahagia
hingga seratus tahun usia
“Sadarlah wahai Raja, ia lahir dari badanmu. Ia adalah
bagian dirimu! Lihatlah anakmu ini, maka engkau laksana
melihat bayang-bayangmu di air telaga bening. Ibarat api
pemujaan yang dinyalakan di rumah, demikian pula anak
ini berasal dari dirimu, menjadi pelita hidupmu. Walaupun
tunggal, engkau telah membagi dirimu.
“Waktu kau berburu, mengejar-ngejar binatang di dalam
hutan, aku engkau dekati. Wahai Raja, waktu itu aku
masih gadis di pertapaan bapaku, Resi Kanwa. Kau tanya
asal-usulku dan kujawab aku putri Dewi Menaka, bidadari
yang diperintahkan Batara Indra untuk turun dari kah-
yangan dan menggoda Wiswamitra, seorang pertapa maha-
sakti. Bersama bidadari-bidadari Urwashi, Purwachitti,
Sahajanya, Wiswachi, dan Gritachi, Dewi Menaka berhasil
menggagalkan tapa Wiswamitra. Pertapa itu tak kuasa
menahan nafsunya melihat kecantikan Menaka. Mereka
memadu cinta. Sayang, Wiswamitra meninggalkan Menaka
yang sedang mengandung. Ketika tiba waktunya, Menaka
melahirkan aku di lembah Gunung Himalaya. Karena tidak
mendapat kasih sayang suami, ia kembali ke kahyangan,
meninggalkan anaknya.
“Dosa apakah yang pernah kulakukan dalam kehidu-
panku sebelum ini, hingga waktu masih bayi aku dibuang
oleh orangtuaku? Dan sekarang ... engkau membuangku,
mengingkariku! Kalau kau tak sudi menerimaku, aku akan
kembali ke pertapaan Bapaku. Tetapi, tidak pantas engkau
membuang anakmu sendiri!”
Setelah mendengar semua itu, Raja Dushmanta ber-
kata, “Hai Syakuntala, aku tak ingat pernah punya anak
laki-laki denganmu. Banyak bicaramu, tapi tak ada artinya
sedikit pun. Bicara dusta, itu yang engkau bisa! Siapa yang
akan percaya pada ceritamu? Karena kehilangan kasih
sayang, Dewi Menaka yang jalang membuang bayinya di
lembah Gunung Himalaya. Ayahmu, Wiswamitra, brahma-
na hidung belang yang gagal tapanya karena tergoda juga
kehilangan kasih sayang. Aku tahu, Dewi Menaka adalah
bidadari utama dan ayahmu adalah resi paling agung.
Mengingat engkau anak mereka, mengapa engkau bicara
seperti perempuan jalang? Kata-katamu tidak pantas
didengar. Tidak malukah engkau menceritakan asal-usul-
mu yang penuh dosa? Pergilah, hai perempuan jalang yang
menyamar sebagai pertapa suci. Di mana ayahmu, Resi
Wiswamitra yang masyhur? Di mana ibumu, Dewi Menaka
bidadari yang utama? Mengapa orang sehina engkau
menyamar sebagai pertapa suci? Aku tidak kenal engkau!
Enyahlah, pergilah ke mana engkau suka!”
Syakuntala menjawab, “Wahai Raja, engkau bisa
melihat kesalahan orang lain walau hanya sekecil butir
pasir, tetapi engkau tak mampu melihat keburukanmu
yang sebesar gajah. Dewi Menaka adalah bidadari utama
yang tinggal di kahyangan. Karena itu, hai Dushmanta,
kelahiranku sesungguhnya lebih mulia daripada kelahiran-
mu. Kau berjalan menginjak tanah di bumi, sedangkan
aku mengembara di langit biru! Lihatlah perbedaan di
antara kita, saksikanlah kekuatanku nanti. Aku bisa
mengunjungi kahyangan tempat tinggal Dewa Indra,
Kuwera, Yama, Baruna, dan dewa-dewa lain, kapan saja.
Sungguh aku tidak berdusta.
“Orang yang buruk rupa selalu menganggap dirinya
lebih tampan dari orang lain, sampai ia melihat wajahnya
sendiri di kaca. Ketika itu barulah ia sadar akan perbedaan
wajahnya dengan wajah orang lain. Dia yang selalu bicara
jahat berhati busuk, ibarat babi yang selalu mencari
kubangan lumpur walaupun berada di tengah taman
bunga.
“Demikianlah, dia yang jahat selalu mencari-cari
keburukan dalam kata-kata orang lain, namun orang yang
bersih hatinya selalu menyimak kata-kata orang lain dan
menyaringnya; yang baik dan benar diterima, yang salah
dan dusta dilupakan. Ibarat angsa yang selalu dapat
memisahkan susu dari air * , orang jujur senang menghor-
mati orang yang lebih tua dan tidak suka membicarakan
keburukan orang lain. Sebaliknya, orang jahat senang
memfitnah dan mencari-cari kesalahan orang lain. Yang
jahat selalu berkata buruk tentang yang jujur, tetapi yang
jujur tidak pernah menyakiti yang jahat walaupun ia
sendiri disakiti.
“Seorang pria yang punya anak laki-laki —yang meru-
pakan bayangannya sendiri— tidak akan pernah mencapai
dunia yang diidam-idamkannya bila ia tak mau mengakui
anaknya. Dewa-dewa akan menghancurkan kebahagiaan
dan kejayaannya. Nenek moyang kita mengajarkan bahwa
anak laki-laki adalah penerus kehidupan keluarga dan
bangsanya. Karena itu, upacara yang dilaksanakannya
adalah upacara terbaik dari segala jenis upacara keagama-
an dan tidak seorang pun boleh melupakan putranya.
“Menurut Manu ada 5 macam anak laki-laki: 1) yang
diciptakan bersama istri sendiri, 2) yang diperoleh dari
pemberian orang lain, 3) yang dibeli berdasarkan
pertimbangan tertentu, 4) yang diasuh dengan kasih
sayang, dan 5) yang diperoleh dari wanita-wanita yang
tidak dikawini. Anak laki-laki memperkuat agama dan apa
yang diperolehnya akan memperbesar kegembiraan
* karena angsa yang anggun dan putih bersih adalah perlambang
kebajikan
ayahnya. Karena itu, wahai Raja perkasa, tidak perlu eng-
kau membuang anakmu sendiri.
“Wahai Raja penguasa dunia, pujalah kebenaran, keba-
jikan dan dirimu sendiri dengan memuja anakmu. Tidak
pantas engkau mempertahankan kebohonganmu. Kebena-
ran lebih penting daripada seratus upacara korban suci.
Tidak ada yang lebih tinggi dari kebenaran. Wahai Raja,
kebenaran adalah Dia Yang Maha Benar. Kebenaran
adalah sumpah tertinggi! Oleh sebab itu, jangan langgar
sumpahmu. Biarlah kebenaran bersatu dengan engkau.
Kalau engkau menghiraukan kata-kataku ini, dengan
kemauan sendiri aku akan pergi dari sini. Sesungguhnya
aku tahu bahwa persahabatan denganmu lebih baik
dihindari. Tetapi, hai Dushmanta, kelak setelah engkau
tiada, anakku ini yang akan menguasai dunia yang
dikelilingi empat samudra dan dihormati oleh raja-raja dari
segala penjuru.”
Setelah mengucapkan kata-kata keras, Syakuntala
meninggalkan Dushmanta. Begitu Syakuntala hilang dari
pandangan, terdengarlah suara dari langit meskipun tak
ada sosok yang terlihat. Dushmanta, dikelilingi para
pendeta istana dan para menteri, mendengar suara itu
berkata.
“Seorang ibu ibarat kulit dari daging. Anak laki-laki
berasal dan merupakan citra ayahnya. Karena itu, wahai
Dushmanta, sayangilah putramu dan janganlah menghina
Syakuntala. Wahai Raja mulia, anak yang berasal dari
benihmu akan menyelamatkanmu dari kekuasaan Batara
Yama dengan upacara-upacara keagamaan. Engkau adalah
asal-mula anak ini. Syakuntala tidak berdusta. Ingatlah,
suami yang membagi dirinya menjadi dua, terlahir kembali
melalui istrinya dalam wujud anak laki-laki.
“Wahai Dushmanta, pujalah dan sayangilah anakmu,
buah rahim Syakuntala. Kau akan tertimpa malapetaka
besar jika menyia-nyiakan dia. Anak yang berjiwa agung
itu akan dikenal dengan nama Bharata, artinya yang
dipuja’!”
Kemudian suara dari kahyangan itu lenyap.
Setelah mendengar kata-kata itu, Raja merasa sangat
gembira. Ia berkata kepada semua orang yang ada di hada-
pannya, “Kalian dengar sabda dari langit tadi? Sebenarnya
aku telah mengakui anak ini sebagai anakku sendiri.
Tetapi, jika kupungut dia dan kuturuti kata-kata Syaku-
ntala begitu saja, rakyatku pasti curiga dan anakku
dianggap anak haram.”
Akhirnya Raja memerintahkan agar dilakukan upacara
khusus, yaitu upacara yang dipersembahkan seorang ayah
untuk anaknya. Dengan upacara yang lain, Syakuntala
diterima sebagai permaisuri. Anak itu diberi nama Bharata
dan dinobatkan menjadi putra mahkota. Kelak di kemu-
dian hari, keturunan Bharata menjadi bangsa yang besar.
gagah perkasa pergi berburu bersama balatentaranya
yang kuat dan bersenjata lengkap. Setelah berjalan bebe-
rapa lama, tibalah mereka di hutan lebat dengan pohonnya
yang besar-besar. Tanah di hutan itu berbatu-batu, seba-
tang air pun tak tampak di sana. Macan, singa, gajah,
banteng, badak dan binatang buas lainnya berkeliaran.
Raja Dushmanta dan balatentaranya memburu gajah. Raja
memerintahkan balatentaranya untuk mengumpulkan
hasil buruan yang sudah mati. Tetapi, gajah-gajah yang
terluka dan belum mati mengamuk menyerang balatentara
Raja. Korban berjatuhan. Ada prajurit yang mati dililit
belalai, ditusuk gading, atau diinjak-injak gajah. Mereka
yang selamat terus memburu binatang-binatang itu hingga
mereka lari cerai-berai masuk ke hutan yang lebih lebat.
Setelah puas berburu, Raja Dushmanta dan bala-
tentaranya meneruskan Perjalanan. Mereka menyeberangi
padang rumput yang tandus dan sangat luas. Hamparan
rumput terbentang sampai ke kaki langit. Setelah
menempuh perjalanan beberapa hari, mereka sampai di
tepi hutan lain. Penduduk desa di tepi hutan itu berkata,
di hutan itu ada pertapaan Resi Kanwa, seorang keturunan
Kasyapa yang termasyhur. Raja Dushmanta memutuskan
untuk berhenti berburu dan mengunjungi Resi Kanwa.
Ia menyuruh balatentaranya menunggu, sementara ia
masuk ke dalam hutan diiringkan beberapa pengiring. Ia
P
berjalan menembus pepohonan yang tidak terlalu lebat,
sampai ke tepian sungai kecil yang jernih airnya. Di tepi
sungai itulah terletak pertapaan Resi Kanwa. Pertapaan itu
tampak bersih dan asri. Bunga-bunga aneka warna mekar
harum semerbak menyemarakkan pelatarannya. Di luar
pertapaan, sampai jauh ke dalam hutan, tampak
bermacam-macam pohon yang dahannya sarat dengan
buah-buah ranum yang menerbitkan liur. Suasana di situ
sungguh teduh dan tenang.
Sampai di gerbang pertapaan, Raja memerintahkan
semua pengiringnya menunggu. Sendirian ia masuk ke
halaman pertapaan. Di sana ia tidak menemukan siapa-
siapa, kecuali seorang gadis cantik yang mengenakan
pakaian pertapa.
Setelah menyampaikan penghormatan selamat datang,
gadis cantik itu bertanya, “Nama hamba Syakuntala. Apa
yang dapat hamba lakukan untuk Tuanku? Hamba
menanti sabda Paduka.”
Raja Dushmanta menjawab, “Aku terpesona oleh kecan-
tikanmu, wahai putri jelita. Di manakah Resi Kanwa yang
termasyhur itu?”
Syakuntala menjawab, “Bapa hamba sedang pergi
memetik buah-buahan. Kalau Tuanku sudi menunggu
sebentar, Tuanku bisa menemuinya setelah beliau kembali
nanti.”
Sambil memandangi wajah ayu Syakuntala, Raja Dush-
manta bertanya, “Siapakah sebenarnya engkau putri jelita?
Putri siapakah engkau dan mengapa engkau tinggal di
hutan ini? Wahai, putri jelita, hatiku telah tercuri olehmu
pada pandangan pertama.”
Syakuntala menjawab sambil tersenyum, “Oh, Tuanku,
hamba adalah anak Resi Kanwa.”
Mendengar jawaban itu, Raja Dushmanta tercengang
dan bertanya lagi, “Resi yang sangat dihormati di jagad ini
telah mengumbar nafsu birahinya? Jika orang biasa
berniat melaksanakan dharma, bisa saja dia lalai. Tetapi,
seorang resi yang suci telah bersumpah tidak akan
membiarkan gejolak nafsu menjerumuskannya. Wahai
putri cantik, bagaimana mungkin Tuan ini anak Resi
Kanwa? Maafkan aku karena ragu. Jawablah dan hapuslah
keraguanku ini.”
Syakuntala berkata, “Baiklah, akan hamba ceritakan
asal-usul hamba sebagaimana yang Bapa Resi ceritakan
kepada seorang pertapa pengembara yang datang meng-
hadap dan bertanya tentang diri hamba. Begini ceritanya...
‘Adalah seorang pria sakti bernama Wiswamitra yang
tidak puas akan kesaktiannya. Untuk membuat dirinya
semakin sakti, dia terus-menerus bertapa dengan khu-
syuk. Begitu kuat tapanya, hingga Batara Indra ketakutan.
Batara Indra tahu, jika tapa Wiswamitra berhasil, pria itu
akan mampu menggulingkannya dari takhtanya di
Indraloka atau kahyangan. Untuk menggagalkan tapa
Wismamitra, Batara Indra memanggil Dewi Menaka dan
diperintahkannya bidadari itu untuk menggodanya.
‘Dewi Menaka berkata, “Paduka Batara, Wiswamitra
adalah seorang suci yang sangat sakti dan berkuasa. Ia
juga sangat gampang marah. Kekuatan, ketekunan dan
dendam jiwanya yang teramat keras sudah membuat
Paduka Batara khawatir. Apalagi hamba, hamba takut
menghadapinya. Dialah yang membuat Wasistha menderita
kesedihan yang mendalam karena melihat anak-anaknya
mati sebelum dewasa. Dia dilahirkan sebagai kesatria,
tetapi karena kebajikan dharma-nya dan kesaktiannya
yang mendalam dia menjadi brahmana.... Dia mampu
membakar tiga dunia, neraka, bumi, dan kahyangan
dengan kesaktiannya, ia juga mampu membuat gempa
bumi. Karena kesaktiannya itu, ya Paduka Batara, bantu-
lah hamba waktu hamba menggoda dia. Hamba mohon
agar Maruta, sang Dewa Angin menyebarkan wewangian
dari pohon-pohon hutan. Waktu hamba bermain-main di
dekatnya nanti, hamba mohon Dewa Angin menerbangkan
pakaian hamba dan Manamatha sang Dewa Cinta
sebaiknya juga membantu hamba.”
‘Setelah berkata demikian, pergilah Dewi Menaka ke
tempat Wiswamitra bertapa. Sesampainya di depan pertapa
sakti itu, ia memberi salam hormat. Kemudian, mulailah
dia merayu. Ketika itu berhembuslah angin kencang,
melambaikan ujung bawah pakaiannya hingga betisnya
yang indah tampak sekilas. Tapi, angin bertiup semakin
kencang dan akhirnya menerbangkan pakaiannya. Tanpa
busana, Dewi Menaka pura-pura malu dan hendak
mengejar pakaiannya. Tak kuasa mengalihkan pandangan-
nya, Wiswamitra terpesona oleh keindahan payudara Dewi
Menaka. Ia tergoda, tak mampu melanjutkan tapanya.
Gagal. Wiswamitra menghentikan tapanya, memilih sang
Dewi, dan mereka hidup bersama.
‘Beberapa waktu kemudian, Dewi Menaka mengandung.
Ketika tiba saatnya melahirkan, ia pergi ke tepi Sungai
Malini di lembah Gunung Himalaya yang indah. Di sana ia
melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi itu ditinggalkan-
nya di tepi sungai lalu ia terbang kembali ke kahyangan.
‘Bayi itu dipungut dan diangkat anak oleh Resi Kanwa.
Karena ketika ditemukan dilindungi oleh burung-burung
syakuntala, maka bayi itu diberi nama Syakuntala dan
anak itu menganggap Resi Kanwa sebagai ayahnya.’
“Itulah cerita yang pernah hamba dengar dari Resi
Kanwa, Paduka Raja,” kata Syakuntala mengakhiri
ceritanya.
Mendengar cerita itu, Raja Dushmanta berkata, “Meni-
kahlah denganku, wahai Syakuntala yang jelita. Seluruh
kerajaanku akan menjadi milikmu. Maukah kau menikah
denganku sekarang juga dengan upacara gandharwa?
Upacara gandharwa adalah yang paling utama dalam
keadaan seperti ini.”
Syakuntala menjawab, “Oh, Tuanku Raja, tunggulah
sampai Bapa Resi datang. Mintalah ijin lebih dulu pada
beliau. Hamba yakin, Bapa Resi pasti merestui kita.”
Dushmanta berkata lagi, “Wahai putri nan jelita dan
sempurna, aku ingin engkau menjadi pendampingku.
Menurut hukum penciptaan, seseorang adalah teman bagi
dirinya sendiri dan karena itu ia bertanggung jawab atas
dirinya sendiri; dia sendirilah yang menentukan segala
sesuatu tentang dirinya sendiri. Menurut hukum itu,
engkau dapat merestui dirimu sendiri. Dan ketahuilah, di
jagad ini ada delapan macam perkawinan. Manu, sang
manusia pertama, merumuskan delapan jenis perkawinan,
lengkap dengan urutan upacaranya. Cara gandharwa
adalah yang paling sesuai dengan sifat kesatria. Janganlah
engkau takut, jangan pula merasa bimbang dan ragu.
Wahai putri tercantik, hatiku penuh cinta kepadamu,
semoga engkau pun demikian. Kabulkanlah permintaanku
dan kita menikah sekarang juga.”
Mendengar itu Syakuntala berkata, “Bila itu memang
cara yang dibenarkan oleh agama, dan bila sesungguhnya
hamba berhak memutuskan untuk diri hamba sendiri,
dengarkanlah wahai pria utama keturunan bangsa Puru,
ada syarat-syarat yang harus Paduka penuhi! Berjanjilah
bahwa apa pun yang hamba pinta akan Paduka kabulkan.
Anak laki-laki yang akan hamba lahirkan hendaknya kelak
menjadi ahli waris kerajaan Paduka. Itulah syarat hamba!
Wahai Raja Dusmanta, jika Tuanku menerima syarat ini,
hamba bersedia menikah sekarang juga.”
Tanpa mempertimbangkan syarat-syarat yang diajukan
Syakuntala, Raja Dushmanta menjawab, “Baiklah, akan
kupenuhi semua permintaanmu! Aku bahkan bermaksud
memboyongmu ke istana setelah kita menikah. Sebagai
permaisuriku, sepantasnyalah engkau tinggal di istanaku.”
Kemudian, Dushmanta dan Syakuntala menikah secara
gandharwa. Mereka bergandengan tangan mengelilingi api
suci sambil mengucapkan mantra-mantra. Maka sahlah
hubungan mereka sebagai suami-istri.
Dalam keasyikan memadu kasih, Dushmanta berulang-
ulang berjanji kepada Syakuntala bahwa ia akan mengirim
seorang utusan untuk menjemputnya. Utusan itu akan
dikawal sepasukan prajurit kehormatan. Digambarkannya
bagaimana Syakuntala akan masuk ke kota diiringkan
utusannya dan pasukan kehormatan serta dielu-elukan
oleh rakyatnya. Setelah mengumbar janji dan puas
berasyik masyuk, Raja Dushmanta kembali ke kota raja.
Dalam perjalanan ke istana ia berpikir-pikir, “Apa kata
Resi Kanwa yang suci dan agung itu jika mengetahui
semua ini?”
Tak lama setelah Raja Dushmanta pergi, Resi Kanwa
tiba di pertapaannya. Syakuntala yang merasa malu dan
bersalah tidak menyongsongnya, seperti biasanya. Tanpa
ada yang memberi tahu dan karena kesaktiannya, resi
agung itu mengerti apa yang telah terjadi.
Dengan kekuatan mata hatinya, Resi Kanwa meman-
dang putri angkatnya. Kemudian, dengan perasaan senang
dan lega ia berkata kepada Syakuntala, “Anakku sayang,
apa yang telah kaulakukan secara diam-diam dan sem-
bunyi-sembunyi tanpa menunggu restuku? Aku tahu,
engkau sudah menikah dengan seorang lelaki. Tak usah
kau cemas, pernikahan itu takkan menghancurkan kebaji-
kanmu. Sesungguhnya, upacara perkawinan gandharwa
antara seorang wanita yang bersedia dengan seorang laki-
laki yang mencintainya adalah salah satu upacara terbaik
di antara cara-cara kesatria. Dushmanta seorang lelaki
yang baik dan berbudi tinggi. Engkau, anakku Syakuntala,
telah menerima dia sebagai suamimu. Anak laki-laki yang
akan kaulahirkan, akan menjadi pemuda yang kuat dan
ternama di seluruh dunia. Ia akan menguasai lautan dan
dikaruniai kesaktian yang tak terkalahkan. Dia akan
menjadi raja diraja dan punya berlaksa-laksa balatentara
perkasa.”
Syakuntala bersimpuh di depan ayah angkatnya dan
membasuh kaki sang Resi. Kemudian, sambil menata
buah-buahan yang dipetik sang Resi, Syakuntala berkata,
“Hamba mohon, Bapa Resi berkenan merestui Dushmanta
yang telah hamba terima sebagai suami. Hamba juga
mohonkan restu untuk rakyat dan kerajaannya.”
Resi Kanwa menjawab, “Demi kau, anakku sayang, aku
akan merestui Dushmanta. Tetapi untukmu sendiri, pinta-
lah hadiah yang kauinginkan.”
Syakuntala ingin agar keturunannya dengan Raja
Dushmanta kekal sampai ke akhir jaman. Karena itu, ia
memohon hadiah restu dari Resi Kanwa agar raja-raja
Paurawa, yaitu raja-raja keturunan wangsa Puru tidak
akan pernah kehilangan kerajaannya dan senantiasa
ternama di seluruh dunia.
Ketika tiba waktunya, Syakuntala melahirkan seorang
bayi laki-laki yang sehat. Waktu berumur tiga tahun, anak
itu sudah kelihatan tampan, agung, perwira, tangkas dan
terampil serta pandai dalam berbagai ilmu pengetahuan.
Hari demi hari berlalu, kesaktian anak itu semakin
bertambah dan nyata terlihat. Dengan mudah ia menak-
lukkan binatang-binatang buas yang berkeliaran di sekitar
pertapaan. Para resi pertapa di hutan itu menyebut dia
dengan nama Sarwadamana, artinya ‘sang penakluk
semua’.
Demikianlah, tiga tahun berlalu ... Jangankan mengirim
utusan untuk menjemput, mengirim pesan atau kabar pun
Raja Dushmanta tidak pernah. Apakah Dushmanta sudah
melupakan Syakuntala?
Pada suatu hari Resi Kanwa memanggil Syankuntala,
menyuruhnya agar menghadap sang Raja. Resi itu berpen-
dapat bahwa sudah tiba waktunya untuk mengantarkan
Sarwadamana menghadap ayahnya. Katanya, “Anakku,
wanita yang sudah menikah tak boleh terus-menerus
tinggal di rumah orangtuanya karena ia takkan dapat
menjalankan kewajibannya terhadap suaminya dan kebaji-
kannya akan rusak.”
Setelah mohon diri dan mendapat restu Resi Kanwa,
berangkatlah Syakuntala dan Sarwadamana diiringkan
beberapa resi sebagai pengawal. Berhari-hari mereka berja-
lan menembus hutan, menyusuri sungai, dan menyebe-
rangi padang rumput luas sebelum akhirnya tiba di
gerbang istana Hastinapura.
Dengan hati berdebar-debar, Syakuntala dan anaknya
memasuki gerbang istana dan minta dibawa menghadap
sang Raja. Setelah mengucapkan salam hormat sepatut-
nya, ia berkata kepada Raja, “Inilah hamba Tuanku,
Syakuntala, istri Paduka dari pertapaan Resi Kanwa.
Lihatlah, wahai Paduka, anak yang tampan ini. Dia adalah
putra Paduka yang selama ini hamba asuh di pertapaan.
Wahai Raja termulia di dunia, penuhilah janji Paduka dan
nobatkanlah dia menjadi putra mahkota. Ingatkah Paduka
akan janji yang Tuan ucapkan waktu kita menjalankan
upacara perkawinan gandharwa di pertapaan Resi Kanwa
dahulu?”
Mendengar perkataan Syakuntala, Raja Dushmanta
ingat semua yang telah terjadi. Tetapi, ia malu. Di hadapan
para perwira dan menteri kerajaan, ia malu mengakui
perkawinannya dengan gadis pertapa yang tak jelas asal
keturunannya. Untuk menutupi rasa malunya, ia berkata
dengan marah, “Berani benar engkau bicara seperti itu!
Aku tak kenal kau! Aku tak pernah bertemu kau! Siapakah
engkau, hai perempuan jahanam yang menyamar menjadi
pertapa suci? Aku tidak punya hubungan apa pun
denganmu, baik karena dharma, kama maupun artha. *
Enyahlah engkau dari sini dan jangan pernah kembali!”
Mendengar kata-kata Raja, Syakuntala sangat kaget,
bagai disambar halilintar. Sekonyong-konyong kesedihan
menghunjam hatinya, membuatnya terpana, tegak berdiri
bagai tonggak, tak sadarkan diri. Tetapi... kemudian
matanya memerah, merah saga bagai besi terbakar.
Bibirnya bergetar menahan perasaannya. Dengan sorot
mata tajam ia memandang sang Raja, seakan hendak
membakarnya hidup-hidup dengan api kemarahannya.
Namun, karena terbiasa hidup sebagai pertapa, Syakuntala
berhasil memusatkan pikiran sucinya dan menahan
kemarahannya yang makin memuncak serta kepedihan
hatinya yang seperti disayat-sayat.
Syakuntala pun berkata sambil memandang Raja
dengan tajam, “Dengarlah, wahai Tuanku. Hanya orang
rendah budi yang dengan mudah berdusta dan ingkar
* Ketiga bentuk hubungan yang dimaksud adalah hubungan tugas-
kewajiban hidup, hubungan seksual dan hubungan kekayaan harta-
benda.
janji. Hamba yakin, dalam hati Paduka pasti mengakui
kebenaran kata-kata hamba. Tetapi, mengapa Paduka
memilih berdusta, berkata tak pernah mengenal hamba,
tak pernah menikahi hamba? Hati nurani adalah saksi
atas kebenaran dan kepalsuan.”
Syakuntala diam sejenak. Kemudian melanjutkan
dengan tegas dan penuh amarah. Raja tak lagi disapanya
dengan sebutan Paduka atau Tuanku.
“Jika engkau mengatakan yang sebenarnya, takkan
turun derajatmu. Orang yang mengingkari kenyataan diri-
nya berarti mencuri atau merampok dirinya sendiri.
Kaupikir, kau dapat mengatakan tidak tahu atas perbu-
atanmu sendiri. Tidakkah kau tahu bahwa Yang Maha
Purba, Yang Maha Tahu bersemayam di hatimu? Ia menge-
tahui dosamu, dan kau telah berbuat dosa di hadapanNya.
Seorang pendosa mungkin berpikir bahwa tak seorang pun
tahu akan dosanya, tetapi sesungguhnya segala perbua-
tannya dilihat oleh Dia yang bersemayam di hati setiap
manusia. Orang yang menghina dirinya sendiri dengan
berdusta, tidak akan direstui olehNya, bahkan jiwanya
sendiri pun tidak akan merestui.
“Aku adalah istri yang mengabdi pada suami. Dengan
kemauanku sendiri aku datang kemari untuk menemui
kau, suamiku. Itu benar. Tetapi janganlah karena alasan
itu aku kauperlakukan hina. Aku adalah istrimu, istri raja,
dan karenanya berhak mendapat perlakuan yang terhor-
mat. Apakah engkau tidak bersedia menerimaku karena
aku datang atas kemauanku sendiri? Di hadapan begitu
banyak orang, di istanamu yang megah mulia, mengapa
kauperlakukan aku seperti perempuan biasa? Bukankah
engkau yang memintaku menjadi permaisurimu? Lupakah
engkau? Tidakkah engkau mendengar kata-kataku?
“Wahai Raja Dushmanta, jika engkau menolak apa yang
kupinta, waspadalah ... kepalamu akan pecah menjadi
seribu, seketika ini juga!”
Karena Raja Dushmanta tetap diam, tak menanggapi,
bahkan membuang muka, Syakuntala melanjutkan kata-
katanya.
“Seorang suami yang merasuk ke dalam tubuh istrinya
akan keluar dalam wujud anak. Begitulah yang selayaknya
terjadi. Karena itu seorang istri disebut jaya, yang berarti
‘dari mana seseorang dilahirkan’. Sebutan itu berasal dari
para ahli kitab suci. Anak yang terlahir secara demikian
akan menyelamatkan jiwa nenek-moyangnya dari api nera-
ka dan karena itu disebut putra oleh Sang Pencipta. Kare-
na melalui anaknya seseorang akan mampu menaklukkan
tiga dunia. Melalui anaknya pula seseorang akan dapat
menikmati kedamaian abadi. Dan bersama anak-cucu dan
cicitnya, seseorang akan menikmati kebahagiaan kekal.
“Istri yang sejati pandai mengatur rumah tangga. Istri
yang sejati mengabdikan seluruh jiwanya kepada suami-
nya. Ia bagaikan belahan jiwa suaminya dan menjadi
teman utama di antara semua teman suaminya. Istri ada-
lah dasar agama, keberuntungan, dan hasrat-keinginan.
Istri adalah akar kelepasan untuk mencapai moksha,
kebahagiaan hidup abadi. Ia yang mempunyai istri dapat
melaksanakan hidup berkeluarga dan mempunyai teman
di waktu suka dan duka. Istri berperan sebagai ayah dalam
upacara keagamaan, sebagai ibu di kala sakit dan duka.
Bagi seorang pengembara, istri adalah penghibur di kala
gundah. Ia yang mempunyai istri dipercaya oleh semua
orang. Karena itu, istri adalah harta paling berharga yang
bisa dimiliki seorang lelaki. Ketika suami meninggalkan
dunia ini dan menghadap Batara Yama, istri yang setia
akan mengikutinya ke dunia sana. Istri yang lebih dulu
meninggal akan menanti suaminya di dunia sana, tetapi
jika suami mendahuluinya, istri yang bijaksana akan sege-
ra menyusulnya ke dunia sana.
“Atas dasar semua itulah, wahai Raja Dushmanta,
seorang lelaki menikahi seorang perempuan. Seorang
suami menikmati keakraban seorang istri baik di dunia ini
maupun di dunia sana. Telah dikatakan oleh para arif
bijaksana bahwa seorang suami pada hakikatnya terlahir
sebagai anak lelaki istrinya. Karena itu, istri yang
melahirkan anak laki-laki haruslah dianggap sebagai ibu
sendiri oleh suaminya. Memandang wajah putranya,
seorang lelaki seperti berdiri di depan kaca dan menatap
wajahnya sendiri. Ia akan merasa bahagia ibarat orang
suci yang mencapai surga. Laki-laki yang muram karena
sedih hatinya atau sakit badannya akan merasa segar
kembali di samping istrinya, bagai orang yang kegerahan
mendapat air sejuk untuk membersihkan badan. Tidak
seorang laki-laki pun, bagaimanapun marahnya dia,
dibenarkan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan
istrinya. Istri ibarat tanah suci tempat suaminya dilahir-
kan. Bahkan dewa pun tidak sanggup mencipta makhluk
tanpa wanita. Adakah kebahagiaan yang lebih besar
daripada kebahagiaan seorang ayah waktu anaknya lari ke
dalam pelukannya?
“Karena itu, wahai Raja Mulia, mengapa engkau bersi-
kap tidak peduli pada anakmu yang datang menghadap
ayahnya? Lihatlah, anakmu memandangmu, penuh harap
dan ingin disambut oleh pelukan ayahnya. Seekor semut
saja bisa memindahkan telurnya tanpa merusaknya,
mengapa engkau tidak bisa menerima anak ini? Hatimu
dingin membeku. Kauingkari anakmu, darah dagingmu
sendiri! Coba resapkan, sentuhan lembut seorang wanita
atau segarnya air yang sejuk jernih tak sebanding dengan
kebahagiaan yang akan kaurasakan ketika kausambut dia
dalam pelukanmu.
“Biarlah anak ini menyentuh dan memelukmu. Di dunia
ini, tak ada yang lebih nikmat daripada pelukan anak
kandung kita. Wahai Pahlawan Perkasa Penakluk Musuh,
akulah yang melahirkan anak ini! Wahai Raja, anak inilah
yang akan bisa mengenyahkan segala kesusahanmu.
“Raja bangsa Puru yang mulia, anak ini akan melang-
sungkan upacara aswamedha dengan korban seratus
kuda! Sesungguhnya, orang yang bepergian jauh dari
rumahnya akan menggendong anak orang lain. Dengan
mencium kepala anak itu mereka merasakan kebahagiaan
yang besar. Engkau, wahai Raja, pastilah tahu bahwa para
pendeta mengucapkan doa dari kitab suci Weda waktu
mentahbiskan seorang anak. Doa itu adalah:
kau dilahirkan dari badanku
kau tumbuh dari hati nuraniku
kau adalah diriku sendiri
dalam wujud bayi
hiduplah seratus tahun lagi
hidupku tergantung padamu
juga kelangsungan bangsaku
wahai anakku, justru kepadaNya
wahai anakku, justru karenaNya
hiduplah kau penuh bahagia
hingga seratus tahun usia
“Sadarlah wahai Raja, ia lahir dari badanmu. Ia adalah
bagian dirimu! Lihatlah anakmu ini, maka engkau laksana
melihat bayang-bayangmu di air telaga bening. Ibarat api
pemujaan yang dinyalakan di rumah, demikian pula anak
ini berasal dari dirimu, menjadi pelita hidupmu. Walaupun
tunggal, engkau telah membagi dirimu.
“Waktu kau berburu, mengejar-ngejar binatang di dalam
hutan, aku engkau dekati. Wahai Raja, waktu itu aku
masih gadis di pertapaan bapaku, Resi Kanwa. Kau tanya
asal-usulku dan kujawab aku putri Dewi Menaka, bidadari
yang diperintahkan Batara Indra untuk turun dari kah-
yangan dan menggoda Wiswamitra, seorang pertapa maha-
sakti. Bersama bidadari-bidadari Urwashi, Purwachitti,
Sahajanya, Wiswachi, dan Gritachi, Dewi Menaka berhasil
menggagalkan tapa Wiswamitra. Pertapa itu tak kuasa
menahan nafsunya melihat kecantikan Menaka. Mereka
memadu cinta. Sayang, Wiswamitra meninggalkan Menaka
yang sedang mengandung. Ketika tiba waktunya, Menaka
melahirkan aku di lembah Gunung Himalaya. Karena tidak
mendapat kasih sayang suami, ia kembali ke kahyangan,
meninggalkan anaknya.
“Dosa apakah yang pernah kulakukan dalam kehidu-
panku sebelum ini, hingga waktu masih bayi aku dibuang
oleh orangtuaku? Dan sekarang ... engkau membuangku,
mengingkariku! Kalau kau tak sudi menerimaku, aku akan
kembali ke pertapaan Bapaku. Tetapi, tidak pantas engkau
membuang anakmu sendiri!”
Setelah mendengar semua itu, Raja Dushmanta ber-
kata, “Hai Syakuntala, aku tak ingat pernah punya anak
laki-laki denganmu. Banyak bicaramu, tapi tak ada artinya
sedikit pun. Bicara dusta, itu yang engkau bisa! Siapa yang
akan percaya pada ceritamu? Karena kehilangan kasih
sayang, Dewi Menaka yang jalang membuang bayinya di
lembah Gunung Himalaya. Ayahmu, Wiswamitra, brahma-
na hidung belang yang gagal tapanya karena tergoda juga
kehilangan kasih sayang. Aku tahu, Dewi Menaka adalah
bidadari utama dan ayahmu adalah resi paling agung.
Mengingat engkau anak mereka, mengapa engkau bicara
seperti perempuan jalang? Kata-katamu tidak pantas
didengar. Tidak malukah engkau menceritakan asal-usul-
mu yang penuh dosa? Pergilah, hai perempuan jalang yang
menyamar sebagai pertapa suci. Di mana ayahmu, Resi
Wiswamitra yang masyhur? Di mana ibumu, Dewi Menaka
bidadari yang utama? Mengapa orang sehina engkau
menyamar sebagai pertapa suci? Aku tidak kenal engkau!
Enyahlah, pergilah ke mana engkau suka!”
Syakuntala menjawab, “Wahai Raja, engkau bisa
melihat kesalahan orang lain walau hanya sekecil butir
pasir, tetapi engkau tak mampu melihat keburukanmu
yang sebesar gajah. Dewi Menaka adalah bidadari utama
yang tinggal di kahyangan. Karena itu, hai Dushmanta,
kelahiranku sesungguhnya lebih mulia daripada kelahiran-
mu. Kau berjalan menginjak tanah di bumi, sedangkan
aku mengembara di langit biru! Lihatlah perbedaan di
antara kita, saksikanlah kekuatanku nanti. Aku bisa
mengunjungi kahyangan tempat tinggal Dewa Indra,
Kuwera, Yama, Baruna, dan dewa-dewa lain, kapan saja.
Sungguh aku tidak berdusta.
“Orang yang buruk rupa selalu menganggap dirinya
lebih tampan dari orang lain, sampai ia melihat wajahnya
sendiri di kaca. Ketika itu barulah ia sadar akan perbedaan
wajahnya dengan wajah orang lain. Dia yang selalu bicara
jahat berhati busuk, ibarat babi yang selalu mencari
kubangan lumpur walaupun berada di tengah taman
bunga.
“Demikianlah, dia yang jahat selalu mencari-cari
keburukan dalam kata-kata orang lain, namun orang yang
bersih hatinya selalu menyimak kata-kata orang lain dan
menyaringnya; yang baik dan benar diterima, yang salah
dan dusta dilupakan. Ibarat angsa yang selalu dapat
memisahkan susu dari air * , orang jujur senang menghor-
mati orang yang lebih tua dan tidak suka membicarakan
keburukan orang lain. Sebaliknya, orang jahat senang
memfitnah dan mencari-cari kesalahan orang lain. Yang
jahat selalu berkata buruk tentang yang jujur, tetapi yang
jujur tidak pernah menyakiti yang jahat walaupun ia
sendiri disakiti.
“Seorang pria yang punya anak laki-laki —yang meru-
pakan bayangannya sendiri— tidak akan pernah mencapai
dunia yang diidam-idamkannya bila ia tak mau mengakui
anaknya. Dewa-dewa akan menghancurkan kebahagiaan
dan kejayaannya. Nenek moyang kita mengajarkan bahwa
anak laki-laki adalah penerus kehidupan keluarga dan
bangsanya. Karena itu, upacara yang dilaksanakannya
adalah upacara terbaik dari segala jenis upacara keagama-
an dan tidak seorang pun boleh melupakan putranya.
“Menurut Manu ada 5 macam anak laki-laki: 1) yang
diciptakan bersama istri sendiri, 2) yang diperoleh dari
pemberian orang lain, 3) yang dibeli berdasarkan
pertimbangan tertentu, 4) yang diasuh dengan kasih
sayang, dan 5) yang diperoleh dari wanita-wanita yang
tidak dikawini. Anak laki-laki memperkuat agama dan apa
yang diperolehnya akan memperbesar kegembiraan
* karena angsa yang anggun dan putih bersih adalah perlambang
kebajikan
ayahnya. Karena itu, wahai Raja perkasa, tidak perlu eng-
kau membuang anakmu sendiri.
“Wahai Raja penguasa dunia, pujalah kebenaran, keba-
jikan dan dirimu sendiri dengan memuja anakmu. Tidak
pantas engkau mempertahankan kebohonganmu. Kebena-
ran lebih penting daripada seratus upacara korban suci.
Tidak ada yang lebih tinggi dari kebenaran. Wahai Raja,
kebenaran adalah Dia Yang Maha Benar. Kebenaran
adalah sumpah tertinggi! Oleh sebab itu, jangan langgar
sumpahmu. Biarlah kebenaran bersatu dengan engkau.
Kalau engkau menghiraukan kata-kataku ini, dengan
kemauan sendiri aku akan pergi dari sini. Sesungguhnya
aku tahu bahwa persahabatan denganmu lebih baik
dihindari. Tetapi, hai Dushmanta, kelak setelah engkau
tiada, anakku ini yang akan menguasai dunia yang
dikelilingi empat samudra dan dihormati oleh raja-raja dari
segala penjuru.”
Setelah mengucapkan kata-kata keras, Syakuntala
meninggalkan Dushmanta. Begitu Syakuntala hilang dari
pandangan, terdengarlah suara dari langit meskipun tak
ada sosok yang terlihat. Dushmanta, dikelilingi para
pendeta istana dan para menteri, mendengar suara itu
berkata.
“Seorang ibu ibarat kulit dari daging. Anak laki-laki
berasal dan merupakan citra ayahnya. Karena itu, wahai
Dushmanta, sayangilah putramu dan janganlah menghina
Syakuntala. Wahai Raja mulia, anak yang berasal dari
benihmu akan menyelamatkanmu dari kekuasaan Batara
Yama dengan upacara-upacara keagamaan. Engkau adalah
asal-mula anak ini. Syakuntala tidak berdusta. Ingatlah,
suami yang membagi dirinya menjadi dua, terlahir kembali
melalui istrinya dalam wujud anak laki-laki.
“Wahai Dushmanta, pujalah dan sayangilah anakmu,
buah rahim Syakuntala. Kau akan tertimpa malapetaka
besar jika menyia-nyiakan dia. Anak yang berjiwa agung
itu akan dikenal dengan nama Bharata, artinya yang
dipuja’!”
Kemudian suara dari kahyangan itu lenyap.
Setelah mendengar kata-kata itu, Raja merasa sangat
gembira. Ia berkata kepada semua orang yang ada di hada-
pannya, “Kalian dengar sabda dari langit tadi? Sebenarnya
aku telah mengakui anak ini sebagai anakku sendiri.
Tetapi, jika kupungut dia dan kuturuti kata-kata Syaku-
ntala begitu saja, rakyatku pasti curiga dan anakku
dianggap anak haram.”
Akhirnya Raja memerintahkan agar dilakukan upacara
khusus, yaitu upacara yang dipersembahkan seorang ayah
untuk anaknya. Dengan upacara yang lain, Syakuntala
diterima sebagai permaisuri. Anak itu diberi nama Bharata
dan dinobatkan menjadi putra mahkota. Kelak di kemu-
dian hari, keturunan Bharata menjadi bangsa yang besar.
bank soal biologi sma 1
Pilihlah
satu jawaban yang paling benar dari 5 alternatif pilihan jawaban yang tersedia
1. Antara Avena sativa dengan Oryza
sativa memiliki takson terendah
pada tingkatan
a
Spesies
b
Genus X
c
Famili
d
Ordo
e
Klas
2
Penyakit yang menggunakan lalat sebagai vektornya adalah sebagai
berikut, kecuali :
a
Kolera
b
Tipus X
c
Disentrie
d
Sleeping sickness
e
Elepantiasis
3
Alasan metagenesis pada lumut , generasi
gametofit sebagai tumbuhan lumut dalam kehidupan sehari-hari adalah sbb, kecuali :
a
Berumur panjang
b
Berukuran besar
c
Autotrof
d
Tidak tergantung pada generasi lain ?
e
Menghasilkan gamet
4
Alasan metagenesis pada Paku, generasi
sporofit sebagai tumbuhan paku dalam kehidupan sehari-hari adalah sbb, kecuali :
a
Berumur panjang
b
Berukuran besar
c
Autotrof ?
d
Tidak tergantung pada generasi lain
e
Menghasilkan spora
5
Manakah spora yang paling lama mengalami
dormansi?
a
Spora Aspergilus sp
b
Spora Lycopodium sp
c
Spora Cyathea sp
d Spora Marchantia sp
e Spora Marsilea sp
6
Gametofit tumbuhan Paku umumnya berbentuk
jantung dan berwarna hijau sehingga autotrof, tetapi ada thalus yang berbentuk
silindris seperti umbi, berwarna putih dan heterotrof, ini dapat dijumpai pada
paku :
a
Cyathea sp
b
Lepidodendrom sp
c
Marsilea sp
d Lycopodium sp
e. Sigillaria sp
7. Jamur dapat
berwarna macam-macam. Manakah yang tida sesuai dengan nama,
warna
dan peranannya?
|
No
|
Spesies
|
Warna
|
Peranan
|
|
a)
|
Penicillium notatum
|
Hijau
kebiruan
|
Penghasil
antibiotic
|
|
b)
|
Auricularia polytricha
|
Coklat bening
|
Bahan makanan
bagi manusia
|
|
c)
|
Monillia sitophila
|
Orange
|
Bahan
pembuatan oncom
|
|
d)
|
Aspergillus fumigatus
|
Hitam
|
Penghasil
racun yang membahayakan pernafasan
|
|
e)
|
Rhizophus nigricans
|
Kuning
|
Pembuatan
kecap
|
8. Berikut adalah tabel spesies protozoa, bentuk, reproduksi dan peranannya.
Manakah yang bukan merupakan pernyataaan yang tepat?
|
NO
|
SPESIES
|
BENTUK
|
REPRODUKSI
|
PERANAN
|
|
a
|
T.vaginalis
|
Tetap,oval,berflagel
|
Biner
longitudinal
|
Penyebab
keputihan pada wanita
|
|
b
|
T. Gambiniese
|
Tetap,memanjang,berflagel
|
Biner
longitudinal
|
Penyebab
sleeping sickness
|
|
c
|
E.Hystolytica
|
Berubah,amoeboid
|
biner
|
Penyebab
disentri
|
|
d
|
Didinium
|
Tetap,oval,bersilia
|
multiple
|
Penyebab
sembelit
|
|
e
|
E.Ginggivalis
|
Berubah,amoeboid
|
Biner
|
Radang gusi
|
9. Berikut adalah
tabel tentang
spesies serangga, tipe mulut,, jumlah sayap,
metamorphosis dan peranannya
|
NO
|
SPESIES
|
TIPE MULUT
|
JUMLAH SAYAP
|
METAMORFOSIS
|
PERANAN
|
|
a
|
Semut
|
menggigit
|
2 pasang
|
Hemimetabola
|
Sebagian
sebagai hama
|
|
b
|
Rayap
|
menggigit
|
2 pasang
|
Hemimetabola
|
Perusak
bangunan
|
|
c
|
Ngengat
|
mengisap
|
2 pasang
|
Holometabola
|
Entomogami
|
|
d
|
Kutu buku
|
menggigit
|
0 pasang
|
ametabola
|
Merusak buku
|
|
e
|
Nyamuk
|
Menusuk dan mengisap
|
1 pasang
|
Holometabola
|
Vector
berbagai penyakit
|
10. Berikut adalah tabel tentang spesies cacing, bentuk tubuh, kelamin, alat gerak,
habitat
dan peranannya. Manakah yang merupakan pernyataan yang tidak
tepat ?
|
No
|
SPESIES
|
BENTUK
|
KELAMIN
|
ALAT GERAK
|
HABITAT
|
PERANAN
|
|
A
|
L.terrestris
|
silindris
|
Hermaprodit
|
Setae
|
Tanah
|
Membentuk
humus
|
|
B
|
Neanthes
virens
|
Silindris
|
Gonorchoris
|
Parapodia, setae
|
Air laut
|
Sumber
makanan
|
|
C
|
Hirudo sp
|
Silindris
|
Hermaprodit
|
Lendir
|
Air tawar
|
Ektoparasit
|
|
D
|
Dugesia
|
Pipih
|
Hermaprodit
|
Lender,silia
|
Air tawar
|
Indicator
pencemaran
|
|
E
|
Ascaris sp
|
Pipih
|
Hermaprodit
|
lendir
|
Usus halus
|
endoparasit
|
11. Berikut adalah tabel tentang macam
senyawa, tempat
penggunaan, dampak, dan
antisipasinya.
Manakah yang merupakan pernyataan yang tidak tepat?
|
NO
|
SENYAWA
|
TEMPAT PENGGUNAAN
|
DAMPAK
|
ANTISIPASI
|
|
A
|
Pestisida
|
Lahan pertanian,
perkebunan
|
Biological
magnification
|
Pengurangan
penggunaan
|
|
B
|
Metil-Hg
|
Penambangan
emas
|
Keracunan
organisme
|
Penghentian
penambangan liar
|
|
C
|
CFC
|
Indusri,pendingin
|
Menipisnya
lapisan ozon
|
Penggunaan
HFC
|
|
D
|
TEL
|
Destilasi BBM
|
Mengurangi kecerdasan
|
Penggantian teknologi
|
|
E
|
Asbes
|
Real estate
|
Penyakit asma
|
Atap
menggunakan genteng,seng
|
12. Tabel
berikut merupakan contoh dan macam interaksi, habitat, daerah
persebaran,
manakah pernyataan yang salah?
|
NO
|
MACAM
|
CONTOH
|
HABITAT
|
PERSEBARAN
|
|
A
|
Mutualisme
|
Adamsia
paliata-umang umang
|
Laut dangkal
|
Perairan
tropis
|
|
B
|
Predasi
|
Anaconda-
cayman
|
Perairan
sungai
|
Amerika selatan
|
|
C
|
Komensalisme
|
Ikan badut-
penyu laut
|
Laut dangkal
|
Perairan
tropis
|
|
D
|
Parasitisme
|
Kutu- monyet
|
Hutan
|
Hutan hujan
tropis
|
|
E
|
netral
|
Kuda
nil-wildebeest
|
Padang rumput
|
Afrika
|
13. Contoh hewan yang hidupnya di wilayah
aboreal adalah :
a.
Monyet X
b.
Buaya
c.
Gajah
d.
Arwana
e.
Kuda
14. Manakah kegiatan berikut yang tidak berpihak pada kelestarian lingkungan ?
a.
Penghentian penggunaan TEL pada proses
produksi BBM
b.
Penghentian penggunaan Freon pada bidang
industri dan elektronik
c.
Peningkatan pemanfaatan gas bio dari kotoran
sapi
d.
Pembangunan rumah flat di perkotaan
e.
Pembangunan jalan tol untuk mempercepat jarak
sehingga emisi gas buang dari knalpot kendaraan dapat dikurangi ?
15. Pelestarian sumber daya alam perlu segera dilakukan karena akhirnya manusia
juga yang akan terkena dampaknya.
Manakah
kegiatan manusia yang tidak mencerminkan pelestarian Sumber
Daya Alam ?
a.
Pembuatan pusat perbelanjaan hingga tingkat
kabupaten/kota ?
b.
Pembuatan hutan-hutan kota
c.
Pemanfaatan kayu sebagai bahan bakar rumah
tangga
d.
Disersifikasi makanan
e.
Pengangkaran tumbuhan dan hewan yang hampir punah
16. Manakah pernyataan berikut ini yang tidak benar ?
a.
Osifikasi adalah proses pembentukan tulang
keras
b.
Clasifikasi adalah proses pengisian matrix
tulang dan gigi dengan bahan calcium
c.
Comifikasi adalah proses pembentukan tanduk
dari zat tanduk
d.
Posporilsasi adalah proses pembentukan energi
e.
Dekarboksilasi adalah proses pelepasan atom
carbon dari ikatan senyawa organic
17. Organ tumbuhan yang tidak dapat dimanfaatkan untuk proses fotosintesis
adalah :
a.
Daun
b.
Batang
c.
Buah
d.
Akar ?
e.
Kelopak
18. Tumbuhan yang tahap perkembangannya belum mencapai tahap perkembangan
embrional adalah :
a.
Pogonatum cirrchatum
b.
Lepidondendron sp
c.
Ulva lactuca
d.
Selaginella caudata
e.
Murraya paniculata
19. Manakah yang bukan merupakan contoh gerak tropi pada tumbuhan?
a.
Gerak matahari menuju
b.
Gerak menutupnya daun flamboyan ?
c.
Gerak mendekatnya akar ke air
d.
Gerak mendekatnya akar ke unsur hara
e.
Gerak mendekatnya sulur markisa ke pohon
mangga
20. Gerakan bonggol tulang lengan atas terhadap tulang belikat termasuk pada
sendi :
a.
Engsel
b.
Peluru
c.
Putar
d.
Pelana
e.
Geser
21. Hewan yang memiliki gerakan tulang panggul yang paling fleksibel sehingga
gerakannya cepat adalah :
a.
Rusa
b.
Cheetah ?
c.
Singa
d.
Zebra
e.
Antelope
22. Alasan yang paling lemah mengapa ular dapat menelan mangsanya yang jauh
lebih besar adalah :
a.
Rahang atas dan bawah tidak dihubungkan
dengan sendi
b.
Antara tulang rahang bawah kiri dan kanan
terpisah
c.
Memiliki kulit yang sangat fleksibel
d.
Memiliki otot sekitar mulut yang sangat
fleksibel
e.
Memiliki susunan gigi yang menghadap ke
belakang sehingga mangsa selalu terdorong ke depan ?
23. Kecepatan dan ketahanan lari suatu hewan dapat dilihat dari otot paha dan
betisnya. Bila memiliki otot paha yang besar dan otot
betis kecil maka kemampuan berlari lebih baik. Manakah hewan yang memiliki
kemampuan berlari paling rendah?
a.
Banteng
b.
Gajah X
c.
Simpanse
d.
Badak
e.
Burung onta
24. Salah satu cara transportasi pada tumbuhan adalah dengan osmosis. Manakah
yang termasuk osmosis ?
a.
Perpindahan ion Na pada transport electron
b.
Berpindahnya molekul glukosa dari suatu sel
ke sel lain
c.
Masuknya air dari jaringan spons kejaringan
poliade saat fotosintesis berlangsung ?
d.
Masuknya molekul CO2 dari
lingkungan melewati stomata
e.
Keluarnya molekul O2 melewati
stomata kelingkungan luar
25. Manakah peristiwa berikut ini yang akan mengalami plasmoptisis ?
a.
Potongan kentang yang dimasukan larutan garam
b.
Sel bakteri yang masuk dalam kuah sup
c.
Sel bakteri yang masuk dalam air sirop
d.
Ikan lele yang terbawa arus banjir bandang
hingga ke laut
e.
Ikan bidadari yang terpelihara dalam aquarium
bersama ikan koi
26. Sel pada tumbuhan yang berfungsi mengangkut hasil fotosintesis adalah ?
a.
Xylem
b.
Phloem ?
c.
Parenkim
d.
Klorenkim
e.
Aerenkim
27. Yang berhubungan dengan tekanan darah manusia adalah sebagai berikut,
kecuali :
a.
Dipengaruhi oleh Umur
b.
Dipengaruhi oleh Emosional
c.
Dipengaruhi oleh Aktifitas
d.
Dipengaruhi oleh Makanan
e.
Dipengaruhi oleh Pekerjaan ?
28. Jantung merupakan organ yang paling berguna untuk memompa darah ke tubuh.
Otot di manakah dari jantung yang memiliki dinding paling tebal ?
a.
VD
b.
VS
c.
AD
d.
AS
e.
Sama tebalnya
29. Seorang anak mengukur tekanan darah di Lab.Biologi sebelum ikut kegiatan
sepak bola dan tercatat 110/70 mmHg. Berapakah tekanan darahnya diukur sesaat
setelah sepak bola ?
a.
Tetap 110/70 mmHg
b.
>110/70 mmHg
c.
<110 mmhg="" o:p="">110>
d.
Fluktuatif
e.
Tidak bisa dipastikan
30. Seorang anak III IPA mencoba tekanan darahnya dengan memakan mentimun ternyata turun 5 mmHg. Kemudian esoknya mencoba makan bawang putih
dan turun 8 mmHg. Beberapa hari kemudian memakan 20 tusuk sate kambing dan
tekanan darahnya naik 10 mmHg. Sementara dilain waktu dia makan nasi dan ikan asin
ternyata naik 6mmHg. Apakah kesimpulan anda bila yang menganalisa adalah anda ?
a.
Semua makanan dapat mempengaruhi tekanan
darah
b.
Vegetarian memiliki tekanan darah yang rendah
dari normal
c.
Non vegetarian memiliki tekanan darah lebih tinggi dari normal
d.
Jenis makanan tertentu dapat mempengaruhi
tekanan darah ?
e.
Singa memiliki tekanan darah lebih tinggi
dari manusia karena makan daging
31. Pencernaan makanan secara mekanik melibatkan gigi, sehingga anak balita
dilatih makan makanan pemula sesudah air susu. Kapan anak memiliki gigi pada
pertama kali?
a.
Umur 6 bulan
b.
Umur 7 bulan
c.
Umur 8 bulan
d.
Umur 9 bulan
e.
Umur 10 bulan
32. Cacat bawaan biasanya terjadi pada balita karena
ketidakadaan anus. Untuk itu maka perlu tindakan pembedahan dengan membuat anus
buatan yang dibuat disisi kiri abdomen yang disebut :
a.
Kolostomi ?
b.
Tubektomi
c.
Vasektomi
d.
Anastesi
e.
Endoskopi
33. Kecepatan bernafas normal orang dewasa antara 10-20 kali/menit tetapi
kadang-kadang ada faktor yang mempengaruhi kecepatan pernapasan. Faktor manakah
yang tidak mempengaruhi ?
a.
Emosi
b.
Rasa takut
c.
Berpikir
d.
Kaget ?
e.
Melakukan aktifitas
34. Kapasitas vital paru-paru laki-laki dewasa sekitar 4,5 liter. Alat untuk
mengukurnya adalah :
a.
Spirometer
b.
Manometer
c.
Spignomanometer
d.
Fotomer
e.
Endoskopi
35. Banyak obat berasal dari wilayah pekarangan kita yang sebetulnya sejak dulu
dimanfaatkan oleh nenek moyang kita. Sekarang disosialisasikan dalam bentuk
“TOGA” singkatan dari tanaman obat keluarga. Manakah yang tidak berkaitan
dengan Toga ?
a.
Jahe dimanfaatkan untuk menghilangkan pegal-pegal
b.
Kunyit digunakan untuk
menyembuhkan maag
c.
Kencur digunakan untuk penghilang masuk angin
d.
Madu digunakan untuk penurun panas balita ?
e.
Daun jambu biji digunakan untuk mengobati diare
36. Bagian ginjal yang berpeluang terjadi pengendapan garam mineral sehingga
terbantuk batu ginjal adalah :
a.
Pelvis renalis
b.
Medulla renalis
c.
Cortex renalis
d.
Ureter
e.
Tubulus Malpighi
37. Senyawa urine yang merupakan sisa metabolisme protein adalah :
a.
Ureum
b.
Asam urat
c.
Kretine
d.
Urobilin
e.
Asam oksalat
38. Berapa pasang jumlah
saraf karanial pada tubuh
kita ?
a.
10 pasang
b.
11 pasang
c.
12 pasang
d.
13 pasang
e.
14 pasang
39. Ketika kita makan , maka lidah kita masih dapat memisahkan gabah /
kerikil pada nasi yang sedang kita kunyah. Bagian manakah
yang dapat merasakan sentuhan tersebut ?
a.
Papilla filiform
b.
Papilla fungiform
c.
Papilla sirkumvalata
d.
Seluruh permukaan lidah
e.
Ujung lidah
40. Bagaimanakah cara supaya vitamin C
yang kita telan lebih efektif terserap
tubuh
?
a.
Ditelan secara utuh
b.
Dikunyah dulu
c.
Dilarutkan dulu dalam air
d.
Dikulum dalam mulut dibawah lidah
e.
Dikulum dalam mulut diatas lidah
41. Kelenjar endokrin yang berfungsi untuk mengendalikan organ lain dalam
menghasilkan hormon adalah :
a.
Pankreas
b.
Suprarenalis
c.
Hipofisis
d.
Hipotalamus
e.
Timus
42. Ketika marah seseorang menjadi kuat dan perkasa, demikian pula ketika dalam
kondisi bahaya. Dalam kondisi tersebut hormon apakah yang bekerja ?
a.
Adrenalin ?
b.
Insulin
c.
Tiroksin
d.
Tertosteron
e.
Prolaktin
43. Penyakit yang menyebabkan kegagalan kehamilan adalah TORCH, manakah
pernyataan dibawah ini yang tidak benar ?
a.
TORCH singkatan dari Toxoplasma, Rubella,
Cytomegalovirus, dan Herpes
b.
Penularan Toxoplasma dapat berasal dari
kucing
c.
Penularan Rubella, Cytomegalovirus, Herpes
dapat lewat udara
d.
Makanan mentah seperti lalapan dan buah dapat
menjadi penularan TORCH
e.
TORCH hanya menyerang wanita
44. Penyakit / kelainan manakah yang bukan genetic abnormality atau genetic
disorder?
a.
Thallasemia
b.
Microcephalus
c.
Distrofi otot
d.
Hemofilia
e.
Sicklemia
45. Ular mengalami evolusi regresif bila dilihat dari rudimenternya kaki.
Tetapi ular juga mengalami evolusi progresif bila dilihat dari perkembangan
menggunakan infra merah untuk menangkap mangsa. Manakah hewan berikut yang
susah dilacak dengan infra merah ?
a.
Tikus
b.
Burung
c.
Marmut
d.
Katak ?
e.
Kelelawar
46. Pembentukan fosil memang secara kebetulan karena memang sebagian besar
tubuh hewan mengalami peruraian oleh adanya aktifitas bakteri pembusuk. Manakah
bagian tubuh yang paling cepat mengalami proses pembusukan ?
a.
Paru-paru
b.
Lambung dan usus
c.
Kulit
d.
Otot
e.
Darah ?
47. Ciri pembelahan mitosis adalah sebagai berikut, kecuali :
a.
Terjadi satu kali sitokinesis
b.
Sitokinesis ditandai oleh penggentingan
bidang equator oleh mikrofilamen
c.
Sel yang melakukan pembelahan sifatnya sama
dengan sel yang dibentuknya
d.
Menghasilkan 2 sel baru setiap pembelahan
e.
Terjadi pada sel somatis
48. Ciri pembelahan meiosis adalah sebagai berikut, kecuali :
a.
Terjadi 2 kali sitokinesis
b.
Profase 2 tidak mengalami duplikasi kromosom
c.
Sel induk tidak pernah bersifat haploid
d.
Sel anak bersifat haploid
e.
Contohnya pembentukan sperma pada Apis indica
49. Batang yang tidak dapat digunakan sebagai tempat fotosintesis adalah :
a.
Batang kaktus
b.
Batang kangkung
c.
Batang bayam
d.
Batang pisang ?
e.
Batang pepaya muda
50. Respirasi anaerob tidak dilakukan oleh :
a.
Sel ragi
b.
Clostridium tetani
c.
Clostridium botulinum
d.
Acetobacter aceti
e.
Sel otot saat lari kencang
51. Ciri dari genetic disorder adalah sebagai berikut, kecuali :
a.
Umumnya dikendalikan oleh gen resesif
b.
Dihasilkan dari proses mutasi
c.
Diwariskan oleh orang tuanya
d.
Tidak dapat disembuhkan
e.
Dapat ditularkan kepada kerabat dekatnya
52. Yang berkaitan dengan substansi genetic pada manusia adalah sebagai
berikut, kecuali:
a.
Terdiri dari makromolekul DNA dan RNA
b.
Memiliki 5 macam nukleotida
c.
DNA lebih berperan dalam pewarisan sifat
d.
RNA lebih berperan dalam metabolisme
e.
Komposisi DNA manusia berbeda dengan komposisi
DNA bakteri
53. Perkawinan manakah yang menghasilkan keturunan ungu : putih adalah 1:1?
a.
AaBb X Aabb
b.
AaBb X
aabb
c.
AaBb X aaBB
d.
Aabb X aaBB
e.
AaBB X Aabb
54. Pada manusia, yang mengalami
monosomi pada autosomnya adalah :
a.
Sindrom Tuner
b.
Sindrom Down
c.
Sindrom Klinefelter
d.
Autis
e.
PKU
55. Pernyataan yang tidak benar berkaitan dengan asal usul kehidupan adalah :
a.
Evolusi kimia terbentuk dari serangkaian
proses reaksi gas di atmosfer
b.
Evolusi kimia terhenti setelah lapisan ozon
di atmosfer terbentuk
c.
Organisme prokariotik berumur lebih tua
dibanding eukariotik
d.
Organisme heterotrof lebih dulu muncul dibanding autrotof
e.
Organisme aerob sama umurnya dengan organisme
anaerob
56. Bukti fosil yang menunjukkan bahwa Archaeopteryx adalah moyang burung
adalah:
a.
Adanya gigi di paruhnya
b.
Adanya ekor yang masih panjang
c.
Bertelur
d.
Bersayap
e.
Memiliki bulu
57. Dari melihat film fiksi ilmiah, para
siswa memahami bahwa kepunahan Dinosaurus disebabkan oleh :
a.
Adanya persaingan diantara sesamanya
b.
Adanya gas beracun yang dikeluarkan oleh
aktifitas gunung berapi
c.
Adanya pencurian telur oleh nenek moyang
mamalia sehingga generasi Dinosaurus menurun drastis
d.
Adanaya gas beracun yang menyebabkan telur
Dinosaurus tidak menetas
e.
Adanya hujan meteor yang menghantam bumi sehingga
mengakibatkan peningkatan suhu global dan kerusakan yang hebat ?
58. Bila perubahan fenotip pada individu tidak terwariskan, berapakah
kemungkinan jumlah spesies jerapah ?
a.
1
b.
2
c.
3
d.
4
e.
5
59. Bila lalat buah yang memiliki sifat sayap normal, warna tubuh abu-abu
(heterozygot), dimana gen B dan V lokusnya terletak pada kromosom yang sama dan pada
pembentukan gametnya mengalami crossing over 40% dikawinkan dengan lalat buah
berfenotip sayap vestigial, warna tubuh hitam. Berapa % Nps nya bila lalat
keturunannya berjumlah 1200 ekor ?
a.
10%
b.
15%
c.
20%
d.
25%
e.
40%
60. Fosil yang memiliki urutan paling lengkap pada setiap urutan umur lapisan
batuan bumi dan ditemukan dalam kondisi
relatif lengkap adalah :
a.
Fosil pada evolusi Manusia
b.
Fosil pada evolusi Mamot ?
c.
Fosil pada evolusi Dinosaurus
d.
Fosil pada evolusi Kuda
e.
Fosil pada evolusi Komodo
Subscribe to:
Posts (Atom)