Monday, December 29, 2014

Former Girls' Generation Member Jessica Preparing For Solo Debut?

Former Girls' Generation Member Jessica Preparing For Solo Debut?
A video that shows former Girls' Generation member Jessica recording in a studio has been uploaded to Instagram, causing speculation that the idol is preparing for her solo debut.
The short video was uploaded by Reggie Martin, the Senior Manager of Special Events and Sports at the Venetian Macau. Martin handles VIP and celebrity relations for the casino.
"Jessica Jung a Korean star and Jermaine Jackson from legendary group Jackson 5 the brother of Michael and Janet Jackson making magic happen in the studio. What a amazing experience to see a icon in action. Stay tuned for 2015. #greatness," the video's caption read.
Jessica was kicked out of Girls' Generation on September 30, 2014 after receiving a ultimatum to either quit operating her fashion brand BLANC (nowBLANC & ECLARE) or she would no longer be a part of the group. The idol had already renewed her contract with SM Entertainent before being kicked out of the group, so it would seem the company still has plans for her to continue as a singer.
There has been no official word from Jessica or SM Entertainment regarding the video of her in the studio; however, netizens are already anticipating the singer's comeback, leaving her messages of support.
You can watch the short video on Reggie Martin's Instagram account.

Mahabarata bab 7 Yayati

Maharaja Yayati adalah putra Raja Nahusha dan salah
seorang nenek moyang Pandawa. Ia tidak pernah
kalah dalam peperangan. Ia selalu mengikuti petunjuk-
petunjuk kitab suci Sastra, menyembah Tuhan dan
menghormati nenek moyang dengan pengabdian yang tak
pernah putus. Ia menjadi masyhur karena pemerintahan-
nya ditujukan untuk kesejahteraan rakyatnya. Sayangnya,
ia cepat menjadi tua karena kutuk-pastu Mahaguru Sukra
yang diterimanya karena ia bersikap tidak adil terhadap
Dewayani, istrinya. Yayati menjadi tua renta dengan cepat.
Semangat hidupnya hancur, ia merasa malu dan terhina.
Ia tak mampu lagi mereguk kenikmatan dunia, padahal
gairah nafsunya untuk merasakan madu asmara masih
menggebu-gebu.
Pada suatu hari, Yayati memanggil kelima putranya.
Setelah mereka menghadap, ia berkata dengan lembut,
meminta mereka agar sudi menolong ayah mereka.
Kata Yayati, “Kutuk-pastu telah dijatuhkan oleh kakek-
mu Mahaguru Sukra, membuatku tiba-tiba menjadi tua.
Tahu-tahu aku menjadi tua sebelum waktunya, padahal
aku belum puas mengecap kenikmatan duniawi.
“Ketahuilah, hai putra-putraku, sejak muda aku hidup
dengan mengekang hawa nafsuku, menolak semua kese-
nangan duniawi walaupun kesenangan itu wajar dan tidak
melanggar aturan kitab-kitab suci. Setelah menikah de-
ngan ibu kalian, belum lama mengecap kebahagiaan, tahu-
M
tahu aku menjadi tua. Sebab itu, salah seorang dari eng-
kau hendaknya membantuku memikul bebanku, mengam-
bil ketuaanku dan memberikan kemudaanmu padaku.
Siapa di antara kamu yang bersedia menolongku akan
kuangkat menjadi raja negeri ini. Aku ingin menikmati
hidupku sebagai orang muda yang penuh gairah.”
Pertama-tama ia bertanya kepada putra sulungnya.
Putra sulungnya berkata, “Oh, Ayahanda Raja, semua
perempuan dan dayang-dayang akan mencemoohkan aku
kalau aku menjadi tua dalam umurku sekarang. Aku tidak
sanggup menolong Ayahanda. Tanyailah adik-adikku saja.”
Yayati bertanya kepada putranya yang kedua. Dengan
lemah lembut pangeran itu menolak, “Ayahanda, Paduka
menyuruhku menjadi tua, itu berarti Paduka menghancur-
kan seluruh kekuatan dan ketampananku, dan seperti
yang kutahu, itu juga kebajikan. Aku tidak mampu meng-
hadapi hal ini.”
Selanjutnya, ketika giliran ditanya, putra yang ketiga
menjawab, “Seorang lelaki tua tidak akan mampu naik
kuda atau naik gajah dan bicaranya gemetar. Apa yang
masih bisa kulakukan nanti jika tiba-tiba aku menjadi
renta? Aku tidak sanggup.”
Maharaja Yayati marah mendengar penolakan ketiga
putranya. Susah payah dia berusaha mengendalikan diri,
menahan amarahnya, dan mencoba berharap pada putra-
nya yang keempat. Ia berkata, “Maukah engkau mengambil
ketuaanku? Maukah kau menukar kemudaanmu dengan
ketuaanku, untuk sementara saja? Tidak lama. Ayah akan
segera menukarnya kembali. Ayah akan mengambil kem-
bali ketuaan itu dan itu akan membuatmu menjadi muda
lagi.”
Tetapi putranya yang keempat meminta maaf karena ia
tidak bisa melakukan itu. Putra keempat itu tahu, sebagai
lelaki tua renta nanti, hidupnya akan bergantung pada
orang lain. Ia akan terpaksa selalu meminta bantuan orang
lain karena tak mampu membersihkan badannya sendiri,
misalnya. Karena itu, betapapun sangat mencintai ayah-
nya, dia tak sanggup memenuhi permintaannya.
Perasaan Yayati kacau. Ia sedih, marah, dan kesal
mendengar penolakan keempat putranya. Tetapi, masih
ada satu harapan, yaitu putranya yang kelima. Putra
bungsunya itu belum pernah menolak permintaan atau
perintahnya. Katanya, “Engkau harus menolong ayahmu.
Aku hidup sengsara karena ketuaanku ini, karena kulitku
yang keriput, karena rambutku yang memutih, dan karena
ketidakmampuanku. Semua ini gara-gara kutuk-pastu
kakekmu, Mahaguru Sukra. Cobaan ini terlalu berat bagi-
ku! Aku ingin menikmati masa mudaku beberapa waktu
lagi. Maukah engkau mengambil ketuaanku untuk semen-
tara? Setelah cukup puas, aku akan segera mengembali-
kan kemudaanmu. Aku akan terima ketuaanku lagi
dengan senang hati. Janganlah engkau menolak permin-
taanku seperti kakak-kakakmu.”
Puru, putra bungsu Yayati yang sangat menyayangi
ayahnya, berkata, “Ayahku, dengan senang hati aku akan
memberikan kemudaanku kepadamu agar Ayahanda
terlepas dari cengkeraman segala kedukaan dan kesusa-
han dalam memerintah kerajaan. Ambillah kemudaanku
dan berbahagialah Ayahanda!”
Mendengar jawaban itu, Yayati memeluk Puru. Ajaib!
Begitu menyentuh putranya, seketika itu juga dia menjadi
muda kembali. Sebaliknya, Puru tiba-tiba berubah menjadi
tua.
Yayati memenuhi janjinya. Takhta kerajaan ia serahkan
kepada Puru yang kemudian termasyhur sebagai raja yang
memerintah dengan adil dan bijaksana.
Sementara itu, Yayati hidup lama dan menikmati
kehidupan sebagai orang muda. Ia reguk segala kenikma-
tan duniawi dengan gairah yang tak pernah terpuaskan. Ia
pergi ke Taman Kubera dan tinggal di sana selama
bertahun-tahun bersama wanita-wanita cantik dan para
bidadari. Bertahun-tahun ia melampiaskan hawa nafsunya
dan menuruti semua keinginannya, tetapi tak pernah
merasa puas. Di balik itu semua, ia merasa hidupnya
hampa dan tak berarti karena hanya mengejar kenik-
matan. Akhirnya ia sadar, semua itu sia-sia.
Yayati kembali ke kerajaannya lalu menemui Puru.
Kepada putranya itu ia berkata, “Anakku sayang, sekarang
ayahmu sadar. Ternyata nafsu berahi tidak dapat dilawan
dengan  melampiaskannya.  Ibarat  memadamkan  api
dengan minyak. Padahal aku sudah mendengar dan mem-
baca ajaran itu sejak muda, tetapi tidak menyadarinya.
Baru setelah menjalani kehidupan serba bebas tanpa
kekangan, Ayah menjadi sadar. Tak satu pun keinginan
duniawi, seperti gandum, emas, sapi, perempuan, dan lain-
lain, dapat membuat manusia merasa puas. Tak satu pun
dapat membuat manusia merasa damai. Kita hanya dapat
mencapai kedamaian dengan keseimbangan jiwa yang
mengatasi segala kesenangan dan ketidaksenangan. Kete-
nangan jiwa dan perasaan damai yang sejati adalah
karunia mulia dari Yang Maha Kuasa.
“Wahai Puru putraku, ambillah kembali kemudaanmu
dan perintahlah kerajaan ini dengan bijaksana dan penuh
kebajikan.”
Setelah berkata demikian, Yayati memeluk putranya.
Seketika itu juga ia berubah menjadi tua renta dan Puru
kembali menjadi muda. Puru meneruskan pemerintahan-
nya dengan adil dan bijaksana.
Raja Puru mempunyai putra bernama Dushmanta, yang
kelak kawin dengan Syakuntala, putri angkat Resi Kanwa.
Anak Syakuntala dan Dushmanta dinamai Bharata. Kelak,
anak keturunan Bharata menjadi wangsa yang termasy-
hur.
Setelah mendapatkan kembali ketuaannya, Yayati pergi
ke hutan. Di sana ia bertapa dan menjalankan ajaran-
ajaran suci hingga tiba waktunya ia kembali ke surga.

Sunday, December 28, 2014

Girls' Generation's YoonA Cast In Chinese Drama "God of War Zhao Yun"

Girls' Generation's YoonA Cast In Chinese Drama "God of War Zhao Yun"
Girls' Generation member YoonA has been cast as the female lead in the upcoming historical Chinese drama "God of War Zhao Yun".
The new series is base on the novel "Romance of the Three Kingdoms", one of the Four Great Classical Novels of Chinese literature. The series will focus onZhao Yun, one of the famed heroes from the novel.
YoonA has been cast as Xiahou Jing, Zhao Yun's lover. The couple's love is complicated when Jing discovers that Yun is the one who has killed her father.
"God of War Zhao Yun" has many big names attached to it, including rising star Lin Gengxin.
Filming for the drama will begin in January. It will begin airing in August onHunan TV.

human historie/ sejarah sebelum nabi Adam

 Ibnu Abbas ra mengatakan, “Setelah Allah menyempurnakan penciptaan langit dan bumi dengan segala sifatnya, gunung-gunung telah ditancapkan, angin telah dilepaskan, di bumi telah ada binatang-binatang liar dan bermacam-macam burung, maka buah-buahan mengering dan berjatuhan ke bumi dan di bumi tumbuh rerumputan yang satu sama lain saling tumpang tindih. Pada saat itu, bumi mengadukan persoalan tersebut kepada Tuhannya. Atas pengaduan itu, Allah menciptakan umat yang beraneka ragam dan berlainan jenis, yang diberi nama Jin. Mereka memiliki jiwa dan aktivitas. Lalu mereka bertebaran seperti debu halus karena jumlah mereka yang sangat banyak. Tanah datar, pegunungan, dan berbagai pelosok dunia telah dipenuhi oleh mereka. Mereka menempati permukaan bumi dalam jangka waktu yang dikehendaki oleh Allah. Di antara mereka ada yang putih, hitam, merah, kuning, bercak-bercak, totol-totol, tuli, buta, menawan, jelek, kuat, lemah, perempuan, dan laki-laki. Satu sama lain kawin dan melahirkan keturunan. Mereka disebut Jin karena mereka samar, tidak kelihatan. Setelah mereka menyesaki bumi dan dunia kian menyempit karena mereka terus bertambah, bertambah pula bencana karena mereka, maka Allah mengirimkan angin topan kepada mereka. Angin tersebut membinasakan mereka. Hanya sedikit dari mereka yang tersisa. Mereka adalah yang pertama kali membuat rumah, membelah batu, memburu burung, dan binatang liar. Semua itu terus-menerus mereka lakukan dalam waktu yang lama. Kemudian satu sama lain di antara mereka saling berlaku aniaya: akibatnya, mereka saling berperang. Akan tetapi, perangnya bukan menggunakan senjata. Sebagian di antara mereka melenyapkan sebagian yang lain dengan memblokade rumah-rumah sehingga mereka yang terkepung binasa karena lapar dan haus. Setelah tindakan perusakan yang dilakukan mereka kian memuncak, maka Allah mengirimkan umat yang berasal dari laut kepada mereka yang jasad- jasadnya lebih besar daripada mereka dan bentuknya lebih menakjubkan, yang disebut dengan Bin. Umat tersebut menyerbu mereka sehingga kaum Jin binasa, tidak satu pun yang tersisa. Jin tinggal di bumi kurang lebih 500 tahun. Setelah itu, bumi dikuasai oleh Bin. Mereka menikah satu sama lain, melahirkan keturunan dan berkembang biak semakin banyak sehingga bumi kian penuh. Sebagian di antara mereka suka membenam ke bumi lapis ketujuh (menyusul : Penduduk Bumi Lapis Tujuh) dan menetap di sana untuk beberapa hari. Bagi mereka tidak ada tempat yang terhalang. Mereka adalah yang pertama kali menggali sumur, membuat sungai, dan mengalirkan air dari sumber- sumbernya dan dari laut. Mereka adalah yang pertama kali membuat mesin/roda, membangun jembatan di atas air, menangkapi ikan di lautan, dan memburu binatang-binatang liar di wilayah yang tidak berpenduduk. Oleh karena itu, semua binatang, baik di daratan maupun di lautan, mengadukan urusan tersebut kepada Allah dan kerusakan yang disebabkan oleh mereka kian bertambah. Maka, Allah menciptakan Jan.” Ibnu Abbas ra mengatakan, “Allah menciptakan Jan dari nyala api…” Beliau juga mengatakan bahwa Jan adalah golongan Jin laki-laki. Mereka memiliki jenis yang beraneka ragam. Di antara mereka ada yang disebut dengan Nahabir; ada juga yang disebut Nahamir. Umat ini layaknya seperti manusia, suka makan, minum, dan berketurunan. Di antara mereka ada yang Mu’min dan ada juga yang kafir. Dan nenek moyang mereka adalah Iblis yang dikutuk oleh Allah. Diriwayatkan bahwa Allah menjadikan malaikat sebagai penghuni langit dan menjadikan Jan sebagai penghuni bumi. Setelah binatang liar dan burung mengadukan perbuatan Jin dan Bin, Allah menciptakan Jan, sebagaimana telah diceritakan. Setelah Allah menciptakan Jan, maka Dia menempatkan mereka di bumi. Setelah tinggal di bumi, mereka berperang dengan Bin. Jan terlalu kuat bagi Bin hingga mereka mampu menghancurkan Bin sampai tidak ada satu pun yang tersisa. Tinggallah Jan di bumi. Mereka menikah satu sama lain dan melahirkan keturunan sampai bumi ini penuh. Selanjutnya, di antara mereka timbul kedengkian dan aniaya. Di antara mereka banyak terjadi pertumpahan darah. Sebagian dari mereka mengganggu sebagian lainnya. Atas kejadian ini, bumi mengadu kepada Tuhannya. Maka, ketika itu, kepada mereka Allah mengutus bala tentara malaikat. Dalam rombongan tersebut ada Iblis yang dahulunya bernama ‘Azazil. Dahulunya dia merupakan ketua malaikat. Dia bersama rombongannya mengusir Jan dari bumi. Akibatnya mereka mengungsi ke gunung-gunung dan tinggal di sana dan Iblis merampas bumi dari mereka. Pada awalnya, si Iblis ini menyembah kepada Allah, baik di bumi maupun di langit. Akan tetapi, kemudian dia ujub dengan dirinya dan dia terasuki ketakaburan (merasa besar). Dalam keadaan demikian, Allah melihat apa yang ada di dalam hatinya, maka Zat Yang Mahaagung berfirman: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 30). Kalimat "man yufsidu fiiha" pada penggalan kalimat diatas lebih tepat jika bukan diartikan sebagai " orang" tetapi akan lebih tepat jika dimaknai sebagai "makhluk". Sehingga dari penggalan kisah yang diceritakan Ibnu Abbas r.a tadi, terungkap sudah Pernyataan para malaikat, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu (makhluk) yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah…”, maksudnya seperti makhluk-makhluk yang diceritakan terdahulu, yaitu Jin dan Bin. Sebab, mereka telah melakukan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah.

Wednesday, December 17, 2014

naruto bakalan ada versi live konsernya :D

narutO Gets a Live Stage Show Adaptation

announcements
posted by thedaydreamparade on 16 December, 2014 at 04:01 pm   ·   2 comments
NARUTO Gets a Live Stage Show Adaptation
The manga for NARUTO may have ended, but there's just plenty to expect for the fans! NARUTO will be made into a stage play filled with stunts and acrobatics! The play will open in Japan on the 21st of March at the AiiA Theater in Shibuya.
It was also announced that the stage play will be performed in overseas venues such as Macau, Malaysia and Singapore! However, dates for the oversea performances are yet to be announced.
Naruto will be played by Koudai Matsuoka, yet another talent from Amuse!
For more information and ticket details, check out the official website now! Also, follow them for updates on Twitter!

Tuesday, December 9, 2014

Mahabaratha BAB 6 Kutukan Mahaguru Sukra

Pada suatu sore setelah puas bermain di taman istana,
Dewayani dan putri-putri Wrishaparwa, raja para
raksasa, pergi mandi ke telaga di tepi hutan yang jernih
dan sejuk airnya. Sebelum menceburkan diri ke dalam air
yang segar, mereka menanggalkan pakaian dan menyim-
pan pakaian itu di tepi telaga. Tiba-tiba angin puting
beliung  berembus  kencang,  menerbangkan  pakaian
mereka dan membuatnya menjadi satu tumpukan. Setelah
mandi dan berpakaian, ternyata terjadi kekeliruan. Tanpa
sengaja Sarmishta, putri Wrishaparwa, mengenakan pakai-
an Dewayani. Melihat itu Dewayani berkata, “Alangkah
tidak pantasnya putri seorang murid mengenakan pakaian
milik putri gurunya.”
Walaupun kata-kata itu diucapkan dengan lembut,
Sarmishta merasa disindir dan tersinggung. Ia marah dan
dengan angkuh berkata, “Tidakkah engkau sadar bahwa
ayahmu setiap hari dengan hinanya berlutut menyembah
ayahku? Bukankah ayahmu menggantungkan hidupnya
pada belas kasihan ayahku? Lupakah kau bahwa aku ini
anak raja yang dengan murah hati memberikan tumpa-
ngan hidup bagimu dan bagi ayahmu? Hai, Dewayani,
sesungguhnya  kau  hanya  keturunan  peminta-minta!
Lancang benar kata-katamu kepadaku.”
Memang benar apa yang dikatakan Sarmishta. Sebagai
resi atau pandeta, Mahaguru Sukra berkasta brahmana.
Sesuai adat, ia hidup dari belas kasihan orang lain. Jika
P
memerlukan sarana hidup, seorang brahmana hanya boleh
meminta-minta. Meskipun demikian, sesungguhnya bagi
kasta brahmana hal itu dianggap perbuatan yang mulia.
Dewayani  tidak  menanggapi  kata-kata  Sarmishta.
Sebaliknya, Sarmishta yang terbakar oleh kata-katanya
sendiri, menjadi semakin marah. Tak dapat mengendalikan
diri, tangannya terayun, menampar pipi Dewayani. Ia
bahkan mendorong putri resi itu sampai jatuh ke parit
yang dalam. Sarmishta, yang mengira Dewayani sudah
mati, segera kembali ke istana.
Sementara itu, Dewayani merasa cemas dan sedih
karena tidak bisa keluar dari parit yang dalam itu.
Kebetulan, Maharaja Yayati, seorang keturunan Bharata,
sedang berburu di tepi hutan dan melewati tempat itu.
Karena haus, ia mencari air. Dilihatnya ada parit berair
jernih di dekat situ. Dia turun dari kudanya, mendekati
parit itu, lalu membungkuk hendak mengambil airnya.
Ketika itulah ia melihat sesuatu yang bercahaya di dasar
parit. Yayati memperhatikan dengan lebih saksama dan
terkejut melihat seorang putri jelita terpuruk di dalam
parit.
Lalu ia bertanya, “Siapakah engkau ini, hai putri jelita
dengan anting-anting berkilau dan kuku bercat merah
indah? Siapakah ayahmu? Keturunan siapakah engkau?
Bagaimana engkau bisa jatuh ke dalam parit ini?”
Dewayani  menjawab  sambil  mengulurkan  tangan
kanannya, “Namaku Dewayani. Aku putri Resi Sukra.
Tolonglah aku keluar dari dalam parit ini.”
Yayati menyambut tangan yang halus itu lalu menolong
Dewayani keluar.
Dewayani tidak ingin kembali ke ibukota kerajaan
raksasa. Ia merasa tinggal di sana sudah tidak aman lagi,
lebih-lebih jika ia ingat perbuatan Sarmishta. Karena itu,
ia berkata kepada Yayati, “Kau telah memegang tangan
kanan seorang putri, berarti engkau harus menikahinya.
Aku yakin, dalam segala hal kau pantas menjadi suamiku.”
Yayati menjawab, “Wahai putri jelita, aku seorang
kesatria dan engkau seorang brahmana. * Bagaimana aku
bisa mengawini engkau? Apa mungkin putri Resi Sukra
yang disegani di seluruh dunia menjadi istri seorang kesa-
tria seperti aku? Putri yang agung, kembalilah pulang.”
Setelah berkata demikian, Yayati kembali ke ibukota
kerajaannya.
Sepeninggal Yayati, Dewayani tetap bertekad untuk
tidak pulang ke istana. Ia memilih tinggal di hutan, di
bawah sebatang pohon.
Sementara itu, Resi Sukra sia-sia menunggu putrinya
pulang. Beberapa hari berlalu, tetapi Dewayani tak kun-
jung pulang. Akhirnya Resi Sukra menyuruh seseorang
mencari putri kesayangannya.
Utusan itu mencari ke mana-mana. Setelah menempuh
perjalanan cukup jauh, akhirnya dia menemukan Dewa-
yani yang duduk di bawah sebatang pohon di tepi hutan.
Putri itu tampak sangat sedih. Matanya merah karena
lama menangis. Wajahnya keruh karena marah. Utusan itu
lalu bertanya, apa yang telah terjadi.
Dewayani menjawab, “Kembalilah engkau dan sampai-
kan kepada ayahku bahwa aku tak sudi lagi menginjakkan
kakiku di ibukota kerajaan Wrishaparwa.”
Setelah mohon pamit, utusan itu kembali ke istana
untuk melaporkan hal itu kepada Resi Sukra.
Mendengar laporan utusannya, Resi Sukra sangat
sedih. Ia segera menemui anaknya dan menghiburnya
sambil berkata, “Anakku sayang, kebahagiaan dan keseng-
saraan seseorang merupakan akibat dari perbuatannya
sendiri. Kalau kita bijaksana, kebajikan atau kejahatan
orang lain tidak akan mempengaruhi kita.” Demikianlah
Resi Sukra mencoba menghibur anaknya.
* Menurut tradisi kuno yang disebut anuloma, perempuan dari kasta
kesatria boleh menikah dengan laki-laki dari kasta brahmana. Tetapi,
perempuan dari kasta brahmana tidak dibenarkan menikah dengan laki-
laki dari kasta kesatria. Tradisi kuno yang disebut pratilonia ini untuk
menjaga agar kaum wanita tidak direndahkan derajatnya ke status kasta
yang lebih rendah. Hal ini dinyatakan dalam kitab-kitab suci Sastra.
Tetapi Dewayani menjawab dengan sedih bercampur
dengki, “Ayahku, biarkanlah segala kebaikan dan keburu-
kanku bersama diriku karena semua itu urusanku sendiri.
Tetapi jawablah pertanyaanku ini. Kata Sarmishta, anak
Wrishaparwa, ayahku seorang ‘budak penyanyi’ yang kerja-
nya hanya menyanjung-nyanjung tuannya. Benarkah?
Katanya, aku ini anak seorang peminta-minta yang hidup
dari belas kasihan orang. Benarkah? Sarmishta sungguh
kasar. Tidak puas mengata-ngatai aku, ia menampar dan
mendorongku ke dalam parit. Aku bersumpah, aku takkan
sudi hidup di wilayah kekuasaan ayahnya.” Dewayani
menangis tersedu-sedu.
Dengan tenang dan penuh martabat, Mahaguru Sukra
berkata, “Wahai anakku Dewayani, engkau bukan anak
‘budak penyanyi’ raja. Ayahmu tidak hidup dengan
meminta-minta, mengemis belas kasihan orang. Engkau
putri seorang resi yang dihormati dan hidup dimanja di
seluruh dunia. Batara Indra, raja semua dewa, tahu akan
hal ini. Wrishaparwa tidak membutakan mata terhadap
hutang budinya kepada ayahmu. Tetapi, orang yang bijak-
sana tidak pernah mengagung-agungkan kebesarannya
sendiri.
“Sudahlah, Ayah tidak akan mengatakan apa-apa lagi
tentang jasa-jasa Ayah. Bangkitlah, wahai mutiara nan
kemilau. Kaulah yang paling jelita di antara semua wanita.
Engkau akan membawa kebahagiaan bagi keluargamu.
Bersabarlah dan marilah kita pulang.”
Tetapi Dewayani tetap berkeras tidak mau pulang.
Resi Sukra menasihatinya lagi, “Sungguh mulia orang
yang dengan sabar menerima caci maki. Orang yang dapat
menahan amarah ibarat kusir yang mampu menaklukkan
dan mengendalikan kuda liar. Orang yang dapat mem-
buang amarah jauh-jauh seperti ular yang mengelupas
kulitnya. Orang yang tidak gentar menerima siksaan akan
berhasil mencapai cita-citanya. Seperti disebutkan dalam
kitab-kitab suci, orang yang tidak pernah marah lebih
mulia daripada orang yang taat melakukan upacara
sembahyang selama seratus tahun. Pelayan, teman,
saudara, istri, anak-anak, kebajikan dan kebenaran akan
meninggalkan orang yang tak mampu mengendalikan
amarahnya. Orang yang bijaksana tidak akan memasuk-
kan kata-kata anak muda ke dalam hatinya.”
Mendengar  itu,  Dewayani  bersujud  menyembah
ayahnya, “Ayahanda, aku masih muda. Nasihat-nasihat
Ayahanda masih sulit kupahami. Tetapi, sungguh tidak
pantas bagiku untuk hidup bersama orang yang tidak
mengenal sopan santun. Orang yang bijaksana tidak akan
bersahabat dengan orang yang selalu menjelek-jelekkan
keluarganya. Orang jahat, walaupun kaya raya, sesung-
guhnya adalah hina dan tidak berkasta. Orang yang taat
beribadah tidak pantas bergaul dengan mereka. Hatiku
sangat marah karena keangkuhan anak Wrishaparwa.
Segores luka lambat laun akan sembuh, tetapi luka hati
karena kata-kata tajam akan meninggalkan goresan pedih
yang seumur hidup takkan hilang.”
Setelah gagal membujuk putrinya untuk pulang, Resi
Sukra kembali ke istana Wrishaparwa. Sampai di hadapan
Raja, dengan mata tajam ia memandangnya sambil ber-
kata, “Walaupun dosa seseorang tidak akan segera men-
dapat balasan, lambat laun dosa itu pasti akan menghan-
curkan sumber kekayaannya. Kacha, anak Wrihaspati dan
seorang brahmacharin, telah menaklukkan pancaindranya
dan tidak pernah berbuat dosa. Ia telah melayani aku
dengan penuh kepatuhan dan tidak pernah melanggar
sumpahnya. Para raksasa rakyatmu beberapa kali berusa-
ha membunuh dia, tetapi aku menghidupkannya lagi. Kini,
anakku yang memegang teguh susila dicaci-maki oleh
anakmu, Sarmishta. Ia bahkan mendorong anakku sampai
jatuh ke parit yang dalam. Ia tidak tahan lagi tinggal dalam
lingkungan kerajaanmu. Dan karena aku tidak bisa hidup
tanpa dia, aku akan pergi meninggalkan kerajaanmu.”
Mendengar itu, Wrishaparwa merasa terancam mala-
petaka. Ia berkata, “Aku tidak mengerti mengapa engkau
melontarkan tuduhan itu. Tetapi, kalau engkau pergi aku
akan terjun ke dalam api.”
Resi Sukra menjawab, “Yang kuinginkan hanyalah
kebahagiaan anakku. Aku tidak peduli nasibmu dan nasib
para raksasa rakyatmu. Dewayani anakku satu-satunya,
anak yang kukasihi melebihi hidupku sendiri. Engkau
kuijinkan mencoba menenangkan dia dan membujuknya
agar mau tetap tinggal di sini. Jika dia mau, aku tidak
akan pergi.”
Maka pergilah Wrishaparwa diiringkan beberapa penga-
wal. Mereka hendak menemui Dewayani di tepi hutan.
Sesampainya di depan gadis itu, Wrishaparwa menyembah
dan memohon agar Dewayani tidak meninggalkan keraja-
annya.
Tetapi Dewayani berkata acuh tak acuh, “Sarmishta,
yang mengata-ngatai aku anak pengemis harus menjadi
dayang-dayang di rumahku dan harus menjadi pengiring-
ku waktu aku dinikahkan oleh ayahku.”
Wrishaparwa menerima tuntutan itu dan memerin-
tahkan pengiringnya menjemput Sarmishta. Putri raja itu
mengakui kesalahannya, lalu menyembah sambil berkata,
“Baiklah aku akan menjadi dayang-dayang Dewayani
seperti yang dikehendakinya. Tidak seharusnya ayahku
kehilangan mahagurunya dan menerima balasan atas
kesalahanku.”
Dewayani menerima permintaan maaf Sarmishta. Mere-
ka berdamai dan semua kembali ke istana Wrishaparwa.
Pada suatu hari Dewayani bertemu dengan Yayati. Ia
mengulangi permintaannya dan berkata bahwa Yayati
harus mengawini dia karena pernah memegang tangan
kanannya erat-erat. Yayati menolak. Katanya, sebagai
kesatria ia tidak dibenarkan mengawini seorang wanita
berkasta brahmana. Memang kitab-kitab suci Sastra tidak
membenarkan hal itu, tetapi sekali perkawinan seperti itu
terjadi, tak ada yang boleh membatalkannya dan perka-
winan itu sah.
Akhirnya, setelah mendapat restu dari Resi Sukra,
Yayati bersedia menikahi Dewayani. Mereka hidup berba-
hagia bertahun-tahun lamanya. Sarmishta menepati janji-
nya. Ia setia melayani Dewayani sebagai dayang-dayang-
nya, sampai pada suatu malam diam-diam ia menemui
Yayati dan meminta pria itu mengawininya. Yayati tak
kuasa  menolaknya.  Diam-diam  Sarmishta  dijadikan
istrinya.
Ketika mengetahui hal itu, Dewayani marah sekali. Ia
mengadu kepada ayahnya. Resi Sukra berang, lalu mengu-
tuk Yayati menjadi orang tua ubanan sebelum waktunya
dan pria itu akan kehilangan masa mudanya.
Mengetahui dirinya dikutuk mertuanya yang sangat
sakti, Yayati takut sekali. Ia pergi menghadap Resi Sukra,
menyembah dan memohon ampun. Tetapi, Mahaguru
Sukra belum lupa akan penghinaan yang pernah diterima
anaknya.
Resi Sukra berkata, “Wahai, Tuanku Raja, engkau akan
kehilangan masa mudamu dan kemegahanmu. Kutuk-
pastu yang telah kulontarkan tak dapat dibatalkan. Tetapi,
engkau bisa minta tolong seseorang yang bersedia menu-
kar ketuaanmu dengan kemudaannya. Hal ini bisa terjadi.”
Demikianlah, sejak menerima kutukan mertuanya,
Yayati berubah menjadi lelaki tua renta yang kehilangan
keperkasaannya.

Sunday, December 7, 2014

ANISONG World Tour Lantis Festival 2015 Reveals Full Artiste Line Up for Singapore

ANISONG World Tour Lantis Festival 2015 Reveals Full Artiste Line Up for Singapore
Lantis Festival will set out for a world tour and bring famous anime tunes and seiyuus closer to you! The world tour was announced on the second day of the15th Anniversary Live Lantis Festival in Shiokaze Park Sun Plaza, Tokyo byHironobu Kageyama of JAM Project.
Singapore will be one of Lantis Festival's stop and the full artiste line up was revealed recently at AFA Singapore 2014! A total of 7 Lantis all-star artistes will be appearing at the live in March!
http://www.jpopasia.com/i1/news/3/17576-h600i81j5u.jpg
For more information on ticketing, check below for details:
ANISONG World Tour Lantis Festival in Singapore 2015
Date: 28 March, 2015 (Saturday)
Venue: The Star Theatre, The Star Performing Arts Centre
Concert starts: 6pm (doors open from 5pm)**
Prices: S$188 (CAT 1 VIP), S$148 (CAT 2 Premium), S$78 (CAT 3 Standard), S$48 (CAT 4 General) (*prices not inclusive of booking fees)
Tickets on open sale now at SISTIC (from 2pm~ )
Ticket available at SISTIC website, mobile and all authorized agents.
Lantis Festival Ticketing page | Official ANISONG World Tour Lantis Festival Singapore FB