Showing posts with label gombong. Show all posts
Showing posts with label gombong. Show all posts

Saturday, January 2, 2016

Alian Butterfly Park, Wisata Edukasi dan Konservasi Kupu-Kupu


ALIAN  - Konsep wisata edukasi berbasis penangkaran kupukupu dikembangkan di Desa Krakal, Kecamatan Alian, Kebumen. Pembangunan kawasan yang diberi nama Alian Butterfly Park (AB-Park) ini, hendak mensinergikan antara konservasi keanekaragaman hayati (kehati) kupu-kupu, edukasi dan ekonomi.

Taman wisata edukasi yang digagas putra asli Kebumen, yakni dokter Bambang Gunawan SpOG itu, berdiri di atas lahan seluas 900 m2, tidak jauh dari objek wisata Pemandian Air Panas (PAP) Krakal.

Taman wisata itu dilengkapi dengan wahana taman kupu-kupu hidup, museum koleksi awetan kupukupu dari seluruh kepulauan Nusantara dan ruang audio visual pemutaran film dokumenter. Fasilitas tersebut masih didukung dengan kandang- kandang penangkaran, baik tertutup maupun terbuka yang dibangun di atas areal seluas 30.000 m2.

Pengelola Alian Butterfly Park Wahyu Karyono menjelaskan, di luar areal taman kupu-kupu itu juga dikembangkan pula areal-areal konservasi kupu-kupu, terutama untuk troides helena, jenis yang dilindungi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Pengembangan areal konservasi ini bekerja sama dengan masyarakat pemilik lahan.

Wisata Edukasi

“Alian Butterfly Park akan diluncurkan pada 11 Juni mendatang, tetapi baru akan dibuka untuk umum pada 1 Juli mendatang,” ujar Wahyu Karyono kepada Suara Merdeka, Rabu (3/6). Dia menyampaikan konsep pembangunan taman kupu-kupu itu didasarkan pada realita, di beberapa wilayah di Kebumen ternyata menjadi tempat atau habitat berbagai jenis kupu-kupu.

Dari hasil identifikasi, di Kebumen terdapat sekitar 175 jenis. Beberapa di antaranya merupakan jenis kupu-kupu dengan nilai keindahan tinggi, seperti troides helena, papilio memnon, dan losaria coon.

“Adapun yang baru bisa ditangkarkan sebanyak 14 jenis kupu-kupu. Yang jelas, setiap hari akan ada 200 kupukupu dari berbagai spesies,” ujar Wahyu menyebutkan, karena tempatnya nyaman kupu-kupu nanti akan datang dengan sendirinya.

Pendirian Alian Butterfly Park ini, diharapkan menjadi wahana wisata edukasi bagi pelajar, mahasiswa maupun masyarakat umun di Kebumen dan Jawa Tengah. Pengunjung bisa mempelajari jenis kupu-kupu dan bagaimana proses metamorfosis kepompong menjadi kupukupu.

“Taman kupu-kupu ini diharapkan menjadi kekuatan ekonomi lokal yang mampu mensinergikan tujuan ekonomi, sosial dan konservasi alam,” imbuhnya. Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Djoenedi Fatchurahman sangat mengapresiasi pembangunan Alian Butterfly Park ini oleh dokter Bambang Gunawan SpOG.

Menurut Djoenedi, konservasi kehati kupu-kupu dikemas sebagai wahana edukasi dan wisata, pada gilirannya memberikan manfaat ekonomis. Apalagi sektor pariwisata diyakini sebagai sektor dengan multiplier effect yang tinggi.

Wednesday, December 30, 2015

Pedagolan, Arung Jeram di daerah Kebumen

PREMBUN - Arung Jeram Padegolan terletak di kawasan Waduk Wadas Lintang, Kecamatan Prembun, Kebumen. Starting point di desa Sendang Dalem dan finish di Bendungan Pejengkolan . 

Bagi anda yang pernah rafting di citarik, citatih ataupun pekalen arung jeram Padegolan mungkin kurang menantang, panjangnya hanya 7 km dengan Jeram Putih sebagai jeram terbesar di Sungai Padegolan).

Sungai Padegolan yang terletak di kawasan Waduk Wadas Lintang, Kecamatan Prembun, Kabupaten Kebumen. Start point Sungai Padegolan yang terletak di Desa Sendang Dalem, memasuki area kompleks Gedung Sentral PLTA Wadas Lintang. Dengan Panjang sungai sekitar 7km range sungai yang cukup pendek untuk diarungi. Banyak cara untuk menuju daerah Wadas Lintang dengan perjalanan 2 jam dari Wonosobo atau Magelang dan juga bisa ditempuh juga dari Purworejo maupun Kutoarjo dengan 1,5 jam.

Sungai ini sangatlah menarik dengan hiasan air jernih bak kolam renang yang kebiru-biruan, buah hasil dari pembuangan waduk Wadas Lintang, dan memang terkadang penampilan tidak selalu mengambarkan bau yang menarik (akibat tambak yang jumlahnya luar biasa, endapan kotoran dari pakan ikan menyebabkan air dari sungai maupun waduk Wadas Lintang kurang bagus untuk dikonsumsi karena bau yang tidak sedap).


Dengan dikesampingkannya masalah diatas, sungai ini adalah sungai yang cukup menarik untuk diarungi dengan 5km yang berjeram dan 2km tanpa ujung flat water (tentunya sebagai latihan tambahan).

Perizinan ke pihak PLTA dan keamanan Waduk Wadas Lintang adalah sesuatu yang sangat penting untuk melakukan pengarungan disini selain seperti biasanya kepada polisi setempat. Merupakan SOP (Standart Operational Procedure), yang harus diterapkan oleh para hobbies dimanapun anda akan menikmati alam dengan bijaksana.Yang didapat adalah pelayanan yang ramah, ceramah sehat, singkong rebus, teh panas, pingpong bersama satpam PLTA dan ijin untuk camping di pinggir jalan.

Layaknya mengarungi sungai di luar negeri selain airnya yang jernih dan mempunyai jeram-jeram yang sangat menarik, pemandangan disekitar sungai menyajikan suasana yang berbeda dan khas, asalkan buangan air dari PLTA Wadas Lintang mencapai minimal 20m3/ s, anda dapat mengarungi sungai ini dengan nyaman, karena kalau dibawah standar itu pastilah yang tersuguhkan hanyalah bongkahan-bongkahan batu yang kurang recommended untuk diarungi.


Karakteristik pingiran sungai yang dihiasi dengan rangkaian batuan besar, penyempitan, rumput-rumput Kalanjana yang tajam membuatscouting menjadi hal yang perlu digaris bawahi. Jernihnya air sungai bak air mineral yang mengalir membuat dasar sungai kelihatan dengan detailnya. Dan salah satu maskot sungai ini selain Jeram L dan Jeram Panjang adalah Jeram Putih (terbesar di Sungai Padegolan), yang memang dihiasi begitu banyak stopper (bentukan yang menghalangi laju arus air, biasanya adalah batu). Jeram yang banyak dihiasi drop kecil menciptakan terbentuknya riversal (arus balik). Warnanya yang putih sebagai akibat buih yang dihasilkan oleh riversal tersebut, kadang menjadi penipu ulung bagi yang lengah.

Dan sebagai bonus adalah rangkaian flat(arus sungai yang tenang atau tidak terdapat jeram) 2km sampai di Bendungan Pejengkolan sebagai finish point-nya. 
(sumber: http://saidoto.blogspot.com/2013/11/arung-jeram-padegolan.html)

Sejarah kota Gombong

GOMBONG (The Independent News) - Pada masa perjuangan Pahlawan Diponegoro (1825-1830) nama desa Gombong belum ada, tetapi namanya adalah dukuh Giyombong. Nama dukuh tersebut berasal dari nama kepala Dukuhnya yaitu Kyai Gombong Wijaya yang sebenarnya ia berasal dari Banyumas, Beliau adalah seorang bekas prajurit Pahlawan Diponegoro yang berjuang di daerah Banyumas.

Karena didudukinya daerah Banyumas oleh Kompeni Belanda, Kyai Gombong Wijaya menyingkirkan diri si suatu daerah tak bertuan di sebelah barat kemit dan menetap disitu, bersama pengikutnya. Beliau selaku ketua rombongan sekaligus sebagai bekel atau Kepala Dukuh. Selanjutnya beliau disebut Kiyai Giyombong. Para pendatang maupun pengungsi dari daerah-daerah yang sudah tidak aman karena telah diduduki oleh kompeni atau Belandapun singgah ke dukuh Giyombong. Baik untuk tinggal sementara maupun menetap menjadi penduduk dukuh Giyombong yang dipimpinnya.
Dari Banyumas, Belanda semakin terdesak dan akhirnya mengambil siasat untuk mendirikan pertahanan di sebelah dukuh Giyombong yang mulai ramai oleh penduduk, dan belum banyak diketahui keberadaannya itu. Belanda pun mendirikan pertahanan berupa benteng yang nantinya akan dipakai untuk berlindungnya pasukan yang terdesak dari pertempuran di sekitar Banyumas dari pertempuran di sekitar Banyumas dan Ngijo (sekarang ijo).


Dalam pembangunan benteng pertahanan itu, Belanda memaksa masyarakat dukuh Giyombong untuk kerja rodi atau kerja paksa bahu membahu mendirikan benteng, yang nantinya benteng itu diberi nama Benteng Van Der Wijck.
(Kini terkenal sebagai salah satu obyek wisata Kabupaten Kebumen dari Gombong yang terkenal). Kiyai Giyombong atau bekel dukuh Giyombong sebagai kepala dukuh merasa kasihan melihat penduduknya yang setiap hari kerja rodi tanpa upah, dari pagi hingga petang, yang menyebabkan kelaparan disana-sini karena sawah tidak ada yang menggarap, dan kalau persediaan makanpun telah diambil oleh Belanda. Hal itu membuat penduduk dukuh Giyombong menderita.


Namun, ketika Kiyai Giyombong mendengar berita tentang pertempuran pasukan Mataram dengan kompeni Belanda di daerah Ayah, dan dengan kemenangan di pihak Mataram. Kiyai Giyombong pun mengambil siasat untuk meminta perlindungan dari pihak Mataram agar penduduk Giyombong terbebas dari penderitaan dan kelaparan. Kemudian Kiyai Giyombong menghadap pasukan Mataram yang bermarkas di bukit Indrakila. Permintaan beliau pun disetujui, kemudian pasukan Mataram berpindah markas di daerah dapuran pring di sebelah selatan dukuh Giyombong.
Pertempuran sengit pun terjadi siang dan malam di daerah Giyombong, penduduk sudah tidak lagi kerja rodi pada kompeni, namun diperintahkan oleh bekel dukuh mereka untuk bahu membahu membantu pihak Mataram melawan Belanda. Belandapun mundur ke benteng pertahanannya. Dan pasukan matarm melanjutkan bergerilya ke daerah timur. Untuk mengenang jasa Kiyai Giyombong, dukuh yang semakin ramai kini menjadi ibukota kecamatan dan dikenal sebagai kota Gombong.
Hingga sekarang masyarakat Gombong masih mempercayai beberapa (Piweling) Kiyai Giyombong, yang antara lain:
“Eling-eling, mbesuk jaman rame, ing Giyombong (Gombong) ora bakal ana peperangan / rerusuhan maneh, nanging sing ana yaiku godane mung “ main lan royal wadon”. (narasumber : H.R Sunarto dengan perubahan/suaramerdeka) 

Tuesday, March 24, 2015

wow... Kebumen rangking 1 se Jawa tengah dan rangking 3 se Indonesia untuk daerah dengan fiskal terendah

SURAT PEMBACA (www.beritakebumen.info) - Belum lama ini Kementerian Keuangan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan nomor 33/PMK.07/2015 tentang Peta Kapasitas Fiskal Daerah . Kapasitas Fiskal Daerah adalah gambaran kemampuan keuangan masing-masing daerah yang dicerminkan melalui penerimaan umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (tidak termasuk dana alokasi khusus, dana darurat, dana pinjaman lama, dan penerimaan lain yang penggunaannya dibatasi untuk membiayai pengeluaran tertentu) untuk membiayai tugas pemerintahan setelah dikurangi belanja pegawai dan dikaitkan dengan jumlah penduduk miskin.

Kapasitas Fiskal Dihitung dengan menggunakan formula :

KF = (PAD + DAU + DBH + Otsus + Transfer Prov + LP) - BP
.                                    Jumlah Penduduk Miskin

Keterangan:
KF = Kapasitas Fiskal
PAD = Pendapatan Asli Daerah
DBH = Dana Bagi Hasil
DAU = Dana Alokasi Umum
Otsus = Dana Otonomi Khusus
Transfer Prov = Transfer Pemerintah Provinsi ke Kabupaten/Kota (bernilai positif untuk Kabupaten/Kota dan bernilai negatif untuk Provinsi)
LP = Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah
BP = Belanja Pegawai

Dari hasil perhitungan dengan formula tersebut, alangkah tidak pantas kalo Kabupaten Kebumen berada di posisi terendah se- Jawa Tengah dengan Indeks 0.07, bahkan seluruh Indonesia Kebumen-pun masih berada diposisi 3 besar dari bawah.

Semoga dengan adanya gambaran tersebut para pejabat dan para pengambil keputusan serta kebijakan di Kabupaten Kebumen lebih peduli untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dan mengentaskan kemiskinan di Kabupaten yang kita cintai bersama. 

Pengirim : Ahmad A Ghani / Krakal Alian Kebumen